“Show Up” Kemiskinan? Terharu atau Bikin Bangga?

Barang DaganganOleh: Rika Kurniawai
?
Mendengar kata miskin, mungkin dulu yang langsung tercenung di benak kita adalah ungkapan prihatin, trenyuh, dan kasihan. Tak ada yang bisa kita lakukan, sekedar menunggu pemerintah yang kiranya bakalan turun tangan untuk menyelesaikannya. Kalaupun ada tindakan dari kita, itu hanyalah sekedar tndakan remeh temeh yang bisa dipastikan tidak akan membawa pengaruh apa-apa terhadap jumlah kemiskinan di negeri ini. Misalnya zakat atau memberi sedikit uang pada pengemis yang kebetulan saja kita temui.
Namun belakangan, kata kemiskinan seakan sedang jadi trend dikalangan masyarakat. Bahkan menjadi suatu kata yang sehari disebut berkali-kali, namun tak mempunyai makna apa-apa. Banyak gembar-gambor berjejalan, asal bisa menyebut kata kemiskinan saja kok rasanya kita sudah jadi manusia paling peduli di dunia.
Pernahkah anda mendengar tentang Jakarta Hidden Area Tour? Itu merupakan suatu paket wisata untuk menukmati sisi-sisi kemiskinan Jakarta. Anda diajak untuk melihat para tunawisma yang hidup dalam gubug-gubug kardus bekas? di sekitar? pinggiran rel sepanjang Stasiun Senen. Kemudian melanjutkan perjalanan melihat-lihat perkampungan kumuh di tepi Sungai Ciliwung di daerah Kampung Melayu terus kearah Galur, Luar Batang dan mengakhiri tur di kawasan kota.
Betapa hebatnya pencetusan ide tersebut. Menarik, cerdas, dan merupakan lahan uang. Seperti yang diberitakan oleh Kompas (minggu, 31/5/09), paket wisata tersebut ditawarkan seharga 65-165 dolar AS denagn jumlah peserta maksimal 4 orang. Sasaran utama paker wisata ini adalah turis asing dari Belanda dan Australia. Seperti yang dilansir oleh kompas minggu tadi, bahwa perancang paket wisata ini mengemukakan bahwa tujuan dibuatnya Jakarta Hidden Area Tour ini adalah untuk memenuhi permintaan seniman luar negeri yang ingin berinteraksi langsung dengan potret kemiskinan di Indonesia. Namun demi melihat bahwa kemudian permintaannya membludak banyak, maka pengelola wisata ini memutuskan untuk lebih membuka kepada umum. Sungguh mengherankan, betapa turis-tiris tersebut amat tergila-gila pada apa yang setiap hari kita lihat, kita anggap hak biasa, bahkan cenderung kita abaikan.
Betapa mirisnya, ternyata kemiskinan kini telah menjelma sebagai suatu lahan untuk berdagang dan mencetak uang. Kemiskinan pun mempunyai daya tarik dan laku untuk dijual. Melengkapi pernyataan ini, masih ada lagi contoh nyata yang dapat kita analisa. Permainan parpol yang mengatasnamakan pembela keadilan rakyat miskin, perang misi mengentaskan kemiskinan, dan politisi penyebar janji memihak pada kepentingan orang miskin. Data Bappenas tahun 2009 menunjukkan bahwa angka kemiskinan meningkat menjadi 33,7 juta jiwa atau sekitar 14% dari jumlah total penduduk Indonesia. Hal ini tentu saja merupakan lahan empuk bagi para politisi tersebut untuk menaikkan perolehan suara.
Kemiskinan pun kian marak dijadikan sebagai ?dagangan?? di televisi. Berbagai macam acara berbasis reality show dibuat sebagai ?ajang haru berjamaah? serta sarana pendongkrak rating televisi itu sendiri. Lama-lama kita juga bakalan bosan dan bertanya-tanya sendiri, sebenarnya apa sih tujuan dibuatnya acara tersebut? Toh juga pada akhirnya tidak akan ada perubahan hidup pada si obyek ini. Satu-satunya efek yang mungkin adalah kita jadi rajin-rajin memberi derma kepada pengemis yang kita jumpai dengan harapan bahwa apa yang kita lakukan tersebut diam-diam akan ditayangkan di televisi, dalam sebuah reality show tertentu.
Berbicara kembali mengenai kemiskinan, mungkin saja masyarakat miskin tersebut juga bisa mengambil manfaat dan kesempatan baik saat dirinya dijadikan sebagai obyek wisata, dagangan partai politik maupun suguhan televisi. Namun bukankah yang kita harapkan adalah pengentasan kemiskinan yang kongkrit dan berjangka panjang? Memang benar ide-ide tersebut diatas adalah suatu suntikan segar dalam penciptaan lahan uang, tapi apa gunanya jika hal tersebut hanya memelihara kemiskinan tetap menjadi kemiskinan. Karena bila anda lupa, bukankah salah satu agenda pemerintah sendiri adalah pengentasan masalah kemiskinan? Semoga pada akhirnya nanti pemerintah bisa mengambil tindakan yang bisa menyelesaikan semua permasalahan ini. Apa iya kita bakal selamanya menganggap haru suatu kemiskinan bila saja ada sedikit bangga yang diselipkan oleh beberapa pihak seperti yang telah saya utarakan diatas? Anda sendiri yang tahu jawabannya. (Rika Kurniawati/Opini Online)

lpm opini

Lpm Opini adalah lembaga pers mahasiswa Universitas Diponegoro khususnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Lpm Opini berdiri sejak 23 April 1985 Isi dari web ini adalah tentang Undip dan Fisip serta Berita seputar Semarang.