
Rakyat Palestina yang dibombardir tentara Israel
Zionis tak henti-hentinya menyerang Gaza, Palestina. Hujan bom menghiasi setiap sudut kota, jatuh dari langit menghujam keras dan meledak di berbagai penjuru Palestina. Ratusan ribu nyawa tak berdosa terenggut, masjid-masjid hancur, sekolah dan rumah terbakar yang tersisa hanya puing-puing reruntuhan, tubuh tak bernyawa yang bergelimpangan serta tangis orang-orang yang ditinggalkan.
Palestina, sebuah negara yang dahulu memiliki wilayah teritorial yang cukup luas, kini menjadi negara kecil dengan penyusutan wilayah mencapai 80% lebih akibat agresi yang dilancarkan oleh Zionis Israel. Klaim Israel bahwa bumi Palestina adalah hadiah dari Tuhan mereka sebagai tanah suci yang harus diperjuangkan adalah alasan Israel menyerang dan mengusir rakyat Palestina yang sejatinya adalah wilayah rakyat Palestina sendiri.
Upaya perdamaian terus dilakukan, salah satunya adalah dengan bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Namun, apa yang terjadi ternyata tidak sesuai harapan, PBB yang fungsi utamanya adalah menjaga dan memelihara ketertiban, keamanan dan kedamaian dunia tampak seperti boneka tak bernyawa tanpa kuasa apa-apa untuk menghentikan Israel. PBB yang beranggotakan hampir seluruh negara di dunia seolah menutup mata pada Palestina. Dengan latar belakang Amerika Serikat sebagai pemegang kekuasaan di PBB, tak heran PBB tidak dapat berbuat apa-apa karena Amerika Serikat-lah penyokong dana terbesar bagi Israel dalam pembangunan dan pembiayaan perang serta penyediaan alat-alat perang atau senjata. Sudah merupakan rahasia umum bahwa sebanyak 60% orang yang menjabat di Gedung Putih, Amerika Serikat, adalah orang-orang keturunan bangsa Yahudi, Israel, yang bermigrasi ketika tanah Palestina dahulu ketika dijajah oleh Inggris. Tak ayal pemerintahan Amerika menganakemaskan Israel dengan Yerusalem sebagai kota suci mereka.
Sementara itu, Israel makin beringas dan keterlaluan dengan memblokade bantuan-bantuan dari negara lain berupa obat-obatan dan makanan yang dikirimkan untuk rakyat Palestina. Bahkan, baru-baru ini terjadi serangan terhadap kapal-kapal relawan dan wartawan dari berbagai negara termasuk Indonesia oleh tentara Israel. Sungguh betapa tidak berprikemanusiaannya mereka. Patut dipertanyakan pula peran dari Presiden Amerika, Barrack Obama yang pada pemilihan presiden lalu berjanji akan mengembalikan perdamaian di Timur Tengah karena ulah mantan Presiden AS George Bush yang sampai sekarang masih belum terrealisasi.
Berita dari berbagai media massa dunia serta internet yang setiap hari memuat kabar Palestina, tak jarang terdapat foto-foto pejuang Palestina yang tewas namun dengan raut muka tersenyum bahagia. Bahagia karena telah membela negaranya dengan segenap jiwa raga meskipun harus mati.
Israel, Yahudi dengan zionisnya telah kehilangan nurani dan tidak pantas disebut sebagai sebuah negara yang berdaulat dengan cara keji seperti itu. Namun, tidak sedikit yang mendukung Palestina, hanya saja mereka tidak punya kekuasaan untuk mengakhiri perang karena tenggelam oleh kedigdayaan bangsa Barat, bangsa yang mengaku menganut paham kebebasan yang justru mengambil kebebasan dan kemerdekaan serta wilayah bangsa lain. Tidak ada lagi ayah-ayah dari anak-anak Palestina yang bekerja dengan normal tanpa mereka tahu bisa saja terkena bom atau tertembak amunisi tentara Israel lalu mati. Tidak ada lagi Ibu-ibu dari anak-anak Palestina yang mengurus rumahnya sebagaimana seorang ibu rumah tangga karena takut rumahnya tertimpa bom dan reruntuhan. Dan, tidak ada lagi derai tawa serta canda anak-anak Palestina yang menghiasi kota-kota, perkampungan di Palestina.
Semoga ada sedikit nurani yang tersisa untuk benar-benar mengakhiri ketakutan, kesedihan, kesengsaraan dan mimpi buruk yang menyelimuti Gaza, Palestina
Oleh : Rizky Dharmawan
Mahasiswa FE Undip 09