Jika mengatakan citra, hal ini tidak pernah lepas dari harga diri maupun perilaku kita dalam membentuk perilaku. Bagaimana kita ingin membentuk citra kita sedemikian rupa? Ingin positif ataukah negatif? Ingin dihargai oleh orang lain atau ingin dicemooh orang lain? Atau mungkin ingin disegani namun ditakuti orang lain? Itu semua tergantung pada diri kita sendiri ingin membentuk citra kita sedemikian rupa. Karena citra diri, yang menentukan sebagian besar adalah diri kita sendiri.
Saya ingat cerita seorang teman, ia ditakuti penjual gorengan hanya gara-gara ia memiliki sebuah tato dan saat itu memang penampilannya sedikit kurang nyaman di mata masyarakat kala itu. Dasar rezeki (atau bukan ya?), penjual gorengan yang takut itu memberinya gorengan yang sangat banyak padahal niat teman saya hanya membeli gorengan seharga Rp 3.000,00. Hal itu membuktikan, kalau pencitraan dirinya saat itu sudah terlanjur buruk di mata masyarakat hanya karena ia bertato. Padahal, teman saya itu bukan preman pasar ataupun tukang jagal. Lalu sekarang bagaimana dengan pencitraan diri seorang koruptor misalnya?
Seorang koruptor biasanya adalah seseorang yang memiliki kewenangan dalam suatu hal, dan koruptor ini biasa disebut white collar crime (kejahatan kerah putih). Kenapa bisa disebut begitu? Karena biasanya, seorang koruptor memiliki pencitraan diri yang terlihat baik dari luar. Seseorang yang berpenghasilan baik, berpendidikan tinggi, dan terlihat sangat baik dari luar. Namun siapa yang menyangka sebenarnya, ia memiliki taring tajam, bertanduk, bermata tiga (itu gambaran setan ya?). Tapi menurut saya, hanya itulah yang cocok mendeskripsikan seorang penjahat yang seharusnya ia menyadari jika ia telah memakan uang milik rakyat, membuat utang Indonesia semakin memburuk, membuat masyarakat resah karena pembangunan tidak sesuai adanya.
Seorang artis, contohnya seperti Luna Maya dan Ariel. Mereka santer dibicarakan karena pencitraan diri mereka yang telah mereka bentuk sejak awal. Di hadapan publik, beberapa tahun belakangan mereka tidak canggung-canggung untuk memamerkan kemesraan. Kemudian mereka menjadi ikon salah satu produk sabun mandi (lagi-lagi di sinipun mereka unjuk kemesraan). Sah-sah saja memang, toh mumpung mereka masih muda, masih mesra-mesranya, masih tenar-tenarnya, wajar saja jika mereka membintangi iklan sabun mandi itu. Sekali dayung tiga pulau terlampau bukan? Padahal jika ingin mencari sepasang kekasih, masih banyak yang lain memang. Namun, Ariel dan Luna memang sudah menang sejak awal lewat pencitraan mereka sebagai seorang pasangan kekasih yang paling cocok (menurut publik).
Saya ingin memberikan satu contoh lagi pencitraan diri yang sukses dilakukan J-Rocks dan Kangen Band ataupun ST12. J-Rocks yang kala itu mulai beredar di masyarakat saat saya masih SMP, masih terasa asing di mata teman-teman saya. Ya, mereka mengusung lagu-lagu bernuansa Jepang dengan penampilan yang tak kalah dengan penampilan band-band Jepang pula (meskipun saya yakin, penggemar Jepang asli pasti langsung mengetahui mereka saat itu meniru siapa). Saat itu, sesuatu yang berbau Jepang masih sedikit aneh, karena memang Indonesia belum berkiblat ke arah sana. Namun seiring tapi pasti, J-Rocks mendapatkan tempat di hati para penggemarnya. Ya, kasus yang sama terjadi pula pada Kangen Band dan ST12. Awalnya, mereka dicemooh karena membawakan lagu-lagu yang cengeng dan mendayu-dayu. Namun, meskipun citra diri mereka seperti itu, mereka tetap memiliki penggemar. Bahkan bandnya pun tetap bertahan sampai sekarang adalah bukti masyarakat juga banyak yang menyukai lagu mereka.
Nah, dari sini dapat kita lihat. Lalu bagaimana dengan citra diri bangsa kita? Mengapa masyarakat justru heboh mencari tahu unjuk kemesraan Luna Maya dan Ariel? Lalu, kenapa masyarakat selalu menutup mata apabila terjadi penjiplakan lagu oleh sang artis? Namun, saat negara lain menjiplak lagu Indonesia misalnya, kenapa Indonesia malah marah? Jika ditimbang-timbang, mungkin saja lagu jiplakan buatan kita lebih banyak ketimbang lagu Indonesia yang dijiplak. Lalu sebenarnya citra diri apa yang ingin dibentuk masyarakat Indonesia? Melihat yang tidak baik, masyarakat Indonesia malah senang sekali mengintipnya. Bahkan tak jarang aib orang lain justru menjadi hiburan tersendiri.
Citra diri Indonesia yang terkenal selain itu adalah ikut-ikutan. Ketika J-Rocks saat itu masih belum memiliki massa yang banyak, karena masih sedikit yang mengerti lagu maupun penampilan mereka yang bisa dikatakan ‘aneh’ pada masa itu banyak orang yang masih enggan mendengar lagu mereka. Bahkan tak jarang mempergunjingkan mereka, karena dandanan mereka yang masih asing di mata orang. Namun, ketika J-Rocks semakin mampu merebut hati penggemarnya, banyak orang Indonesia yang akhirnya tak segan untuk ikut mendengarkan lagu mereka. Hal serupa juga terjadi pada Kangen Band dan ST12. Saya yakin, sebenarnya pasti banyak yang secara sengaja maupun tidak sengaja, ikut menikmati lagu yang didendangkan mereka. Namun, banyak yang berkilah kalau mereka menyukai lagu-lagu Kangen Band atau ST12. Padahal, lagu mereka pun laris manis di pasaran.
Sehingga citra diri masyarakat Indonesia saat ini sungguh memprihatinkan.
Banyak yang mengatakan, mereka berpartisipasi dalam pencegahan global warming, namun mereka membuang sampah sembarangan, mereka menggunakan listrik secara berlebihan, mereka tidak peduli pada penghijauan. Lalu apa yang akan kita berikan kepada generasi di bawah kita? Mentalitas dan citra diri yang seperti inikah yang patut dicontoh oleh generasi-generasi penerus bangsa?
Suka melihat aib orang lain, selalu berkilah (lalu apa bedanya dengan para koruptor yang juga kalian benci, kalian hakimi? Padahal mentalitas negara kitapun seperti ini), menghalalkan segala cara untuk mencari kepuasaan diri. Benarkah seperti itu yang dapat kita wariskan pada generasi bangsa? Melihat ibu, ayahnya, saudaranya, temannya memiliki citra diri yang merugikan bangsa Indonesia?
Maka, mari bentuklah citra diri yang baik untuk harga diri anda. Selamat menjadi manusia yang lebih baik!
oleh: Ghela Rakhma Islamey
Mahasiswa Komunikasi Undip 2009