“Gila,Gua muak banget sama rutinitas gua,bangun pagi berangkat kena macet sampe kantor ketemu bos yang banyak maunya bikin gua tertekan,nyampe rumah capek besoknya kaya gitu lagi”. Penggalan kalimat diatas bukanlah sebuah kalimat biasa. Kalimat ini ada pada lirik lagu Seringai yang berjudul Membakar Jakarta. Sebuah kalimat yang sudah pasti ada dalam diri setiap masyarakat Ibu Kota Kita tercinta ini Kota Jakarta.
Bayangkan dengan rutinitas bangun jam setengah lima pagi. Berangkat setengah enam. Bahkan jam lima bagi yang rumahnya di Bekasi,Citeureup,Bogor dan terkena macet sehingga harus sampai kantor jam sembilan pagi. Setelah itu tekanan pekerjaan,target perusahaan,kepuasan klien. Dan pulang kantor jam lima petang. Langsung sampe rumah? Enak saja. Para pekerja ini harus menempuh kemacetan yang bisa sampai tiga jam. Sehingga bukan tidak mungkin baru sampai rumah jam sembilan malam. Segera istirahat? Mungkin tidak, bagi yang sudah berkeluarga harus mendengar keluh-kesah anggota keluarga yang lainnya atau mungkin mendengarkan tuntutan-tuntutan dari anak,istri,mungkin orangtua. Baru tidur jam sebelas dan esoknya kembali seperti siklus yang dijelaskan tadi.
Kasihan? Ya memang seperti itu apa yang ada di ibukota kita tercinta. Siapa yang disalahkan? Mungkin semua salah.
Apa solusinya? Batasi kendaraan? Angkutan umum diperbanyak dan harus memadai? Kurangi kendaraan roda dua? Perluasan jalan? Ganti Gubernur? Pindahkan Ibu Kota??
Pindahkan Ibu Kota? Hmmmm.. sebuah wacana yang sudah ada dipikiran Bapak Bangsa kita Bung Karno semenjak tahun 1950an yang lalu. Bisa dibilang Bung Karno sudah mampu memperkirakan apa yang akan terjadi 60 tahun kemudian. Jakarta sudah tidak layak dijadikan Ibu Kota.
Pusat pemerintahan?iya,Pusat perekonomian?iya,Pusat pekerjaan?iya,Pusat industri entertainment?iya,Pusat segala kemacetan?Tentu saja!!. sudah banyak sekali masalah di kota Jakarta. Kemacetan,lapangan pekerjaan,sarana transportasi,banjir,masalah padatnya penduduk,dan mungkin ancaman bencana alam.
Memang mungkin sudah saatnya ide Bung Karno itu direalisasikan. Tapi kemana? Kota mana yang akan menjadi Ibu Kota kita? Yang jelas dimanapun kota itu tidak di Pulau Jawa tepatnya.
Pemindahan Ibu Kota banyak tertuju kepada Kota Palangkaraya. Kota di Kalimantan Tengah ini dirasa Ideal sebagai Ibu Kota yang baru. Karena letaknya yang berada ditengah Negara ini. Di condong ke Barat dan Timur. Sehingga dirasakan tidak ada lagi kecemburuan dari daerah lain. Serta bila dilihat dari letaknya Palangkaraya bebas dari ancaman Gema bumi karena tidak berada dalam kawasan lingkaran Pasifik atau ring of fire. Dan Palangkaraya sangat luas,luasnya mencapai 2.678,51 km persegi. Sedangkan Jakarta hanya 661,52 km persegi. Dengan pemindahan ini bisa dijadikan pertumbuhan yang merata di penjuru daerah. Pembangunan tidak hanya terpusat di Pulau Jawa.
Pemindahan tentu saja memerlukan biaya yang sangat besar. Bisa mencapai ratusan triliun dan waktu yang tidak sebentar untuk menjadikan Palangkaraya benar-benar ibu kota. Perlu pembangunan dan pemukiman bagi para pegawai pemerintahan.
Apakah hanya ini solusi terakhir untuk mengatasi masalah ibu kota?apakah seluruh pemerintahan pindah ke Palangkaraya? Sebenarnya ada solusi lain yakni penyebaran pemerintahan di seluruh daerah. Misal, Kantor Presiden dan Wakil di Palangkaraya, Menteri perekonomian beserta keuangan,perdagangan berada di Batam atau Jakarta. Menteri Hukum dan Ham di Makassar, Menteri pariwisata di Bali, Menteri Agama di Solo. Menteri sosial di Papua. Dll. Hal ini dirasa efektif untuk lebih membangun daerah-daerah yang lain. Tidak hanya menempatkan semuanya di satu kota.
Isu yang ramai jelas jadi perhatiannya banyak masyarakat. Dan jangan sampai wacana ini hanya hangat-hangat tai ayam. Hanya rame diawal dan hilang kemudian seperti kasus yang sudah-sudah.

Agustus 5th, 2010 on 10:00 am
Yang pasti pemerintah pusat bersama lembaga-lembaganya serta bekerja sama dengan pemerintah daerah dituntut harus bisa menyelesaikan masalah tersebut (dalam hal ini kemacetan di DKI Jakarta). Untuk mengatasinya, bukan melalui kebijakan-kebijakan yang responsif yang cenderung dirancang dan dilaksanakan untuk menjawab kepentingan dan masalah saat ini saja, melainkan melalui pembuatan kebijakan yang bersifat programis, yaitu kebijakan yang dirancang untuk memecahkan masalah secara bertahap dan berkelanjutan. Mengenai pemindahan ibu kota, hal itu memang sudah sewajarnya diwacanakan. Kita bisa melihat negara-negara maju seperti Amerika misalnya. Dimana antara kota pusat pemerintahan, pusat bisnis, pusat industri hiburan, dan lain-lain, tidak berada dalam satu tempat. Dan satu lagi, bahwa kedua hal tersebut (masalah kemacetan di Jakarta dan wacana pemindahan ibu kota negara) jangan mengalami ketimpangan. Jangan sampai pula ada anggapan pemerintah pusat ingin “mencuci sebelah tangan” dari tanggung jawabnya untuk ikut serta mengatasi kemacetan di Jakarta, sehingga merencanakan pemindahan ibu kota negara. Semoga Indonesia menjadi yang terbaik. Amin.