Judul: “Miskin Kok Mau Sekolah..?!” Sekolah dari Hongkong…!!!
Halaman: 392 halaman
Penerbit: DIVA Press
Sekolah merupakan tempat dimana seorang individu ditempa oleh ilmu agar ia menjadi pandai. Lebih lanjut, sekolah menjadi sarana belajar seseorang agar ia mengetahui dan memahami mana yang baik dan mana yang buruk. Ilmu yang didapatkan dari sekolah tersebut, diharapkan nantinya dapat membuat seseorang itu mampu menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan yang akan dilaluinya. Akan tetapi, seiring prosesnya sekolah justru dijadikan sebagai suatu lahan industri. Industrialisasi pendidikan ini membuat kebutuhan pendidikan tidak bisa lagi dipenuhi oleh semua kalangan dan strata sosial dalam masyarakat. Hanya masyarakat berduit saja yang mampu mengenyam pendidikan berkualitas baik. Sementara masyarakat miskin? Dipersilakan untuk duduk di bangku reyot sekolah kualitas rendah, bahkan juga dilarang untuk sekolah!
Setidaknya itulah garis besar yang diceritakan Wiwid Prasetyo dalam novelnya, “Miskin Kok Mau Sekolah..?!” Sekolah dari Hongkong…!!! Dalam novel yang ia tulis tahun 2009 ini ia mencoba mengkritisi sistem pendidikan yang ia anggap diskriminatif dengan cara menggambarkan betapa susahnya masyarakat miskin untuk sekolah. Dengan mengambil latar tempat di Ibu Kota Jakarta, Wiwid menempatkan empat orang anak berusia 10 hingga 12 tahun sebagai tokoh utama dalam novelnya. Mereka bernama Riris, Budi Totol, Slamet Garuk dan Iwan Grumpung. Keempat anak tersebut berasal dari keluarga miskin yang tinggal di salah satu daerah kumuh di sudut Kota Jakarta. Kondisi keuangan keluarga mereka yang serba pas-pasan memaksa mereka untuk bekerja apa saja membantu perekonomian keluarga. Karena itulah mereka tidak bersekolah dan menjadi individu yang buta aksara.
Novel karya Wiwid ini dimulai dengan pertemuan antara Riris, Budi Totol, Slamet Garuk dan Iwan Grumpung. Mereka berempat hidup di jalanan dimana merupakan lingkungan yang keras. Sama seperti anak yang lainnya, mereka juga ingin bersekolah. Tapi apa daya, uang bak menjauh dari kantung keluarga mereka. Walaupun diselimuti oleh kondisi sedemikian rupa susahnya, mereka memiliki satu mimpi yakni pergi ke Perancis untuk memandang menara Eiffel dengan mata mereka sendiri. Jadilah mereka memulai mimpi mereka itu dengan merantau dan bekerja di berbagai tempat dengan terus berharap mimpi mereka tersebut dapat tercapai. Dalam perantauan mereka itulah mereka mengalami berbagai kejadian, yang tak hanya menyenangkan tapi juga kejadian menyedihkan, memalukan, dan membingungkan.
Novel ini dikemas dengan cukup apik sehingga dapat menarik perhatian pembaca yang melihatnya. Hal tersebut tergambar salah satunya melalui judulnya yang provokatif. Di samping itu, cover novel ini terlihat padu padan dengan cerita yang ingin pengarang utarakan. Akan tetapi, dalam novel ini kurang ada sinkronisasi antara karakter tokoh dan pola pikir serta ucapan-ucapannya. Seringkali akan dijumpai pemikiran dan ucapan-ucapan tokoh utama yang cenderung bersifat ilmiah dan tidak cocok apabila diucapkan oleh anak berusia dibawah 13 tahun dan tidak pernah bersekolah. Ketidakcocokan tersebut berpotensi membingungkan pembaca dalam memahami novel karya Wiwid ini. Terlepas dari segala kelebihan dan kekurangannya, novel ini bisa jadi cukup inspiratif. Pasalnya, ide yang dituangkan oleh Wiwid melalui novelnya ini seolah “menyentil” dunia pendidikan di Indonesia yang kerap didengungkan dengan jargon, “orang miskin dilarang sekolah!!!”.
Pundan Rama Danumardhany