Menengok Kembali Dahsyatnya Tragedi Bintaro

Semarang – Masih ingatkah Anda pada Tragedi Bintaro 1987? Tragedi ini dinilai sebagai kecelakaan terburuk yang pernah ada di dunia perkereta apian Indonesia setelah adanya kecelakaan pada 20 September 1968 yang melibatkan Kereta Api Bumel dengan kereta api cepat yang mengakibatkan 116 orang tewas. Kecelakaan ini dinilai terburuk karena melibatkan dua kereta api ekonomi di Indonesia. Ya, tragedi ini terjadi pada Senin pagi, tanggal 19 Oktober 1987.
KA225 yang bernomor lokomotif BB30317 dengan masinis bernama Slamet Suradio dan asistennya bernama Soleh, dan kondekturnya bernama Syafei ini membawa sekitar 700 penumpang karena pada saat itu banyak orang yang akan berangkat kerja. Kereta api ini berangkat dari Rangkasbitung menuju tujuan akhir Jakarta.
Selanjutnya, KA220 yang bernomor lokomotif BB30617 dengan masinis bernama Amung Sunarya dan asistennya bernama Mujiono berangkat dari Tanah Abang ke tujuan akhir Merak. Dua kereta api tersebut bertabrakan di daerah antara Stasiun Pondok Ranji dan Pemakaman Tanah Kusir sebelah utara SMA Negeri 86 Bintaro. Dua kereta api ini bertabrakan karena berada pada jalur yang sama dan berjalan pada kedua arah yang berbeda.
Kecelakaan ini menyebabkan jatuhnya korban sebanyak 153 orang tewas dan 300 orang luka-luka. Korban-korban tersebut ditemukan dengan kondisinya mengenaskan. Terdapat korban yang badannya terhimpit oleh besi-besi mesin kereta api, ada pula yang masih hidup namun tergeletak seperti sedang sekarat, dan ada pula korban yang badannya tercerai berai.
Awal mula kecelakaan ini diduga adanya kesalahan prosedur yang dilakukan oleh Kepala Stasiun Serpong. Kepala stasiun itu tidak mengecek terlebih dahulu kepenuhan jalur kereta api di Stasiun Sudimara Bintaro, tidak adanya komunikasi dan koordinasi diantara kepala-kepala stasiun.
Seharusnya untuk memindahkan persilangan jalur ke Kebayoran pada KA225, Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) harus meminta izin dahulu ke Stasiun Kebayoran, setelah diizinkan, PPKA membuat surat PTP (Pemindahan Tempat Persilangan) ke masinis KA225. Namun, PPKA malah membuat PTP, dan memberikannya hanya kepada masinis, baru meminta izin ke Stasiun Kebayoran. Di situ terdapat tanggapan dari PPKA Kebayoran “Gampang, nanti diatur!”
Untuk itu, terdapat hal yang bisa kita petik dan pelajari seperti tidak menyepelakan pekerjaan karena dapat mengganggu ketenangan orang lain, berkoordinasi dan berkomunikasi dengan sesama individu yang berada dalam suatu kelompok atau organisasi, dan melakukan perencanaan yang matang sebelum mengambil tindakan.
Adapun harapannya, semoga kita bisa mengevaluasi kesalahan-kesalahan yang dilakukan pada saat itu, membuat, dan menemukan hal-hal baru untuk diterapkan pada industri kereta api agar produktivitas kereta api di Indonesia berjalan efektif dan efisien. Belajar dari masa lalu itu penting agar kita tidak mengulangi kesalahan-kesalahan tersebut dan menjadi lebih baik.

Teks: Kaninda Bela Nagari
Foto: Kompas.com
Editor: Indriastuti Septiyani
Redaktur Pelaksana: Adam Yolanda

lpm opini

Lpm Opini adalah lembaga pers mahasiswa Universitas Diponegoro khususnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Lpm Opini berdiri sejak 23 April 1985 Isi dari web ini adalah tentang Undip dan Fisip serta Berita seputar Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *