Le Petit Prince: Kisah Pangeran Cilik Nan Lugu by Zumarliza Wiyanti Asra

Judul Novel: Le Petit Prince (Pangeran Cilik)

Penulis: Antoine De Saint-Exupery

Alih Bahasa: Henri Chambert-Loir

Desain Sampul: Marcel A. W.

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Halaman: 120 halaman

Tahun Terbit: 2016 (cetakan ke tujuh: Desember 2016)

 

Le Petit Prince (Pangeran Cilik) adalah novel anak-anak terfavorit sepanjang masa dan sudah diterjemahkan dalam 230 bahasa asing. Novel karya Antoine De Saint-Exupery ini  pertama kali diterbitkan dalam bahasa Perancis pada tahun 1943.

Berawal dari kisah sang narator saat ia masih kecil, senang menggambar ular sanca yang sedang mencernakan gajah, baik tampak dari luar maupun dari dalam.  Namun, ketika ia tunjukkan gambarnya kepada orang lain, orang tersebut menyuruh sang narator kecil untuk berhenti menggambar dan mulai belajar hal-hal logis lain seperti ilmu bumi, ilmu hitung, sejarah, dan tata bahasa. Sejak saat itu, sang narator kecil berhenti menggambar dan mulai belajar hal-hal logis itu.

Bertahun-tahun kemudian, sang narator tumbuh menjadi orang dewasa dan berprofesi sebagai seorang pilot. Suatu hari, sang narator mengendarai pesawatnya melewati Gurun Sahara dan tiba-tiba pesawat itu mengalami masalah (mogok). Di saat ia sedang memperbaiki pesawatnya yang mogok di tengah-tengah Gurun Sahara, ia bertemu dengan sang pangeran cilik yang memintanya untuk menggambar seekor domba. Sang narator berkata bahwa ia tidak bisa menggambar domba, ia justru menggambar seekor ular sanca yang sedang mencernakan gajah namun gambar itu ditolak oleh sang pangeran cilik. Ia terus meminta sang narator untuk menggambar seekor domba. Akhirnya, sang narator menggambar sebuah peti dan berkata bahwa di dalam peti itu ada seekor domba. Sang pangeran cilik itu pun mengaku ia bisa melihat seekor domba dalam peti itu dan menerima gambarnya. Dan cerita antara sang narator dan sang pangeran cilik itu pun dimulai.

Penulis Resensi Le Petit PrinceNovel ini sangat menarik untuk dibaca, ditambah lagi dengan banyaknya gambar ilustrasi yang unik dan penuh warna sehingga tidak membosankan. Meskipun ini novel anak-anak, tapi sebenarnya dapat dinikmati juga oleh orang dewasa, dikarenakan novel ini memiliki nilai-nilai yang menyentuh dan dapat direnungkan seperti nilai kekuasaan, tanggung jawab, dan cinta. Saint-Exupery berpendapat, semakin seseorang menginjak dewasa, akan ada nilai atau pemikiran yang mulai dia lupakan saat ia masih kecil meskipun nilai atau pemikiran tersebut sangatlah sederhana namun bermakna besar. Ada satu kutipan terkenal yang diambil dari novel ini yaitu: On ne voit bien qu’avec le cœur, l’essentiel est invisible pour les yeux (Seseorang hanya dapat melihat dengan sebaik-baiknya melalui hatinya, karena yang terpenting (dalam kehidupan) tidak terlihat oleh mata).

 

Teks: Zumarliza Wiyanti Asra (Hubungan Masyarakat – FISIP)

Foto: https://blogs.scientificamerican.com/literally-psyched/the-big-lesson-of-a-little-prince-recapture-the-creativity-of-childhood/

Editor: Audita Widya Pinasthika

Redaktur Pelaksana: Finky Ariandi

lpm opini

Lpm Opini adalah lembaga pers mahasiswa Universitas Diponegoro khususnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Lpm Opini berdiri sejak 23 April 1985 Isi dari web ini adalah tentang Undip dan Fisip serta Berita seputar Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *