Daun Ganja Bak Simalakama, Tidak Dimakan Istri Meninggal, Dimakan Dibui

Semarang РFidelis, merupakan seorang warga di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, yang ditangkap karena diduga melakukan penyalahgunaaan narkotika. Fidelis menanam ganja untuk mengobati penyakit yang diderita istrinya. Dilema pun muncul karena ganja adalah salah satu dari obat-obatan yang dilarang pemerintah.

Kejadian ini menimbulkan banyak respon dari masyarakat, sebagian besar menganggap bahwa penangkapan Fidelis sebaiknya dipertimbangkan lebih jauh lagi. Fidelis menggunakan ganja bukan untuk dikonsumsi semata. Fidelis beralasan hal ini ia lakukan untuk menyembuhkan, atau setidaknya meringankan beban penyakit yang diderita istrinya. Dalam konteks hukum, tidak ada niatan jahat sama sekali yang dilakukan Fidelis. Namun di sisi lain, hukum tetap harus ditegakkan.

Dikutip dari kumparan.com, hari Jumat (31/3) Kepala BNN Komisaris Jenderal Budi Waseso menilai penangkapan Fidelis Ari Sudarwoto, yang merupakan seorang pegawai negeri di Kalimantan Barat yang menanam ganja di belakang rumah tidak bisa ditoleransi. Menurutnya, dalam kasus itu tidak ada pengampunan yang bisa diberikan, walau ganja itu untuk obat.

Budi Waseso mengatakan hal demikian, karena belum ada hukum yang bisa meringankan hukuman Fidelis sekalipun untuk obat. Fidelis yang disangka melanggar ketentuan Pasal 111 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika (UU Narkotika) harus tetap ditindaklanjuti demi kepentingan hukum.

Hal yang dilakukan Fidelis memang harus dibuktikan secara medis, mengenai dampak dari mengonsumsi daun ganja untuk mengobati penyakit yang diderita istrinya Yeni Riawati. Namun, sejak Fidelis tertangkap, istrinya sudah tidak lagi mengkonsumsi ganja yang diracik oleh suaminya. Sang istri akhirnya meninggal dunia tepat 32 hari setelah Fidelis ditangkap Badan Narkotika Nasional (BNN). Fidelis juga mengungkapkan bahwa ia sudah melakukan berbagai cara untuk mengobati isterinya, kronologi penyakit yang diderita Yeni dapat dilihat dalam link terlampir yang dapat dilihat di http://bit.ly/2oDfQ52.

Pemerintah seharusnya juga bisa sesegera mungkin bekerja sama dengan lembaga penilitian terkait, kemudian mengadakan penelitian tentang ganja, mengenai kandungan apa yang disinyalir bisa mengobati penyakit yang diderita Yeni, yang didiagnosa mengidap penyakit kista tulang belakang. Penangkapan Fidelis seharusnya mempertimbangkan tujuan dari tindakan Fidelis. Karena tujuan Fidelis menggunakan ganja adalah bisa meringankan penyakit yang diderita isterinya.

Hal ini menimbulkan berbagai macam respon dari masyarakat. Dikutip dari situs berita Kompas, sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) meminta pemerintah melakukan legalisasi daun ganja untuk pengobatan. Analis Kebijakan Narkotika LBH Masyarakat Yohan Misero mengatakan, legalisasi bisa dilakukan melalui revisi Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Sebab, saat ini UU tersebut tidak mengakomodasi penggunaan ganja untuk kesehatan. Bahkan, pasal 8 UU Narkotika justru melarang pemanfaatan narkotika golongan I untuk kesehatan.

Berbanding terbalik dengan respon yang dilontarkan Budi Waseso dalam sesi wawancara live melalui Kompas TV.

“Belum ada penelitian dari IDI (Ikatan Dokter Indonesia), Kementerian Kesehatan, maupun LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Pembuktian ini belum ada. Jadi yang katanya dapat mengobati itu, buktinya mana? Ini hanya alasan pembenaran,” ungkapnya. “Bilamana itu untuk pengobatan, apakah Fidelis sudah melaporkan pada pihak yang berwenang berdasar petunjuk dari ahli medis? Kalau itu sudah, itu bisa jadi pertimbangan.” kata Budi.

Bagaimanapun, instansi terkait harus sesegera mungkin melakukan penelitian lebih lanjut, mengenai hubungan penyakit Kista Tulang Belakang dan Ganja. Dengan adanya hasil penelitian ini diharapkan bisa ditemui titik yang jelas, salah atau benar perbuatan yang dilakukan oleh Fidelis, dengan menanam ganja untuk alasan pengobatan istrinya, yang disisi lain penggunaan obat obatan semacam itu merupakan hal yang dilarang.

Mengambil kasus ini sebagai pembelajaran, lagi-lagi terdapat dilema yang terjadi antara hubungan hukum dan manusia. Dimana hukum dibuat untuk dipatuhi oleh manusia, namun hukum sering kali tidak sesuai dengan nilai yang dianut oleh masing-masing individu. Masih jelas di ingatan ketika ada seorang menteri yang harus dicopot diambil pangkatnya karena masalah kewarganegaraan ganda. Serta seorang pasukan pengibar bendera istana yang tidak diijinkan untuk mengibarkan bendera Merah Putih, karena memiliki kewarganegaraan asing.

Muncul sebuah pertanyaan, apakah hukum dibuat agar dipatuhi oleh manusia, atau seharusnya hukumlah yang menyesuaikan manusia?

Teks: Sastiansyah R. Akbar

Foto: http://makassar.tribunnews.com/2017/03/30/viral-kisah-fidelis-ari-nekat-tanam-ganja-demi-kesembuhan-istri-beginilah-nasibnya-kini

Editor: Audita Widya Pinasthika

Redaktur Pelaksana: Finky Ariandi

lpm opini

Lpm Opini adalah lembaga pers mahasiswa Universitas Diponegoro khususnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Lpm Opini berdiri sejak 23 April 1985 Isi dari web ini adalah tentang Undip dan Fisip serta Berita seputar Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *