Gawioboti, Ajang Kreasi Warga Giritengah

Semarang – Pada hari Kamis (25/05) lalu, mahasiswa program studi D3 Hubungan Masyarakat (Humas) mengadakan pelatihan mengenai pengolahan botol plastik bekas di Desa Giritengah, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Acara ini bertujuan agar limbah botol plastik bisa dimanfaatkan sebagai produk khas yang dapat dipasarkan kepada wisatawan Candi Borobudur melalui pelatihan ini. Pelatihan ini dinamakan “Gawioboti”, yang merupakan singkatan dari Gawe Duit Seko Botol Plastik.

Acara “Gawioboti” mengundang alumni D3 sendiri yaitu Oky dan juga Bank Sampah Nadhofah yang merupakan bank sampah Desa Giritengah. Peserta yang hadir diajarkan bagaimana mengolah limbah botol plastik menjadi sebuah lampu hias dan bros hijab, yang memiliki ornamen mencirikan Candi Borobudur. Hal ini menjadikan produk dari pelatihan memiliki nilai jual tersendiri sebagai produk souvenir khas Candi Borobudur.

”Dengan adanya pelatihan ini diharapkan warga Desa Giritengah mampu meningkatkan kreativitasnya dalam mengelola sampah botol plastik. Selain untuk mengurangi limbah plastik, pelatihan ini juga bertujuan untuk meningkatkan perekonomian warga Desa Giritengah.” ujar Indah Yulianti selaku ketua panitia.

Sebelum “Gawioboti”, kegiatan kampanye anti botol plastik dilakukan di Zona Satu Candi Borobudur. Isi dari kegiatan ini merupakan edukasi mengenai pengelolaan limbah botol plastik yang dihadiri lebih dari 40 peserta ibu-ibu Dusun Kamal, Mijil, Kalitengah dan Gedangsambung Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang berkolaborasi dengan Bank Sampah Nadzofah untuk membuat pelatihan mengenai botol plastik yang siap untuk dijual.

Dikutip dari press release, Inge, yang merupakan salah satu panitia, menjelaskan bahwa hasil riset yang dilakukan seminggu sebelumnya menunjukkan inisiatif warga sekitar masih kurang dan hasil karyanya pun masih belum berkembang, Oleh karena itu panitia berinisiatif untuk melakukan pelatihan lampu tidur agar dapat digunakan dengan sebaiknya.

“Program seperti ini yang seharusnya dijadikan program jangka panjang dan sebagai aksi nyata dari bentuk-bentuk kampanye lingkungan tanpa sampah. Masyarakat memang masih minim kesadaran akan pengelolaan sampah. Maka dari itu, dengan adanya program ini harapannya sedikit demi sedikit bisa menyadarkan masyrakat akan kesadaran pengelolaan sampah,” ujar Bowo, salah satu founder Bank Sampah Nadzofah.

 

Teks: Sastiansyah R. Akbar

Foto: Dokumentasi Panitia

Editor: Audita Widya Pinasthika

Redaktur Pelaksana: Finky Ariandi

lpm opini

Lpm Opini adalah lembaga pers mahasiswa Universitas Diponegoro khususnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Lpm Opini berdiri sejak 23 April 1985 Isi dari web ini adalah tentang Undip dan Fisip serta Berita seputar Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *