The Last Samurai: Kehormatan Para Pengabdi Kaisar by Ariyo Mukti

Semarang – Mendengar istilah Samurai pikiran kita secara otomatis akan berpikir tentang pedang. Padahal makna Samurai itu sebenarnya adalah para kesatria Jepang yang setia melindungi kaisar mereka. Edward Zwick terinspirasi dari sejarah budaya Jepang dan membuat sebuah film yang bertema Samurai di masa lalu.

Film ini berawal dari kisah Nathan Algren mantan perwira tentara Amerika yang dikirim ke Jepang untuk melatih rakyat Jepang dalam peningkatan dan modernisasi militer di sana. Dia ditugaskan melatih mereka untuk bersiap melawan para Samurai. Namun, kehidupannya di Jepang tidak semudah itu. Dia menghadapi segala hal yang belum ia pernah temui dalam hidupnya. Pertemuannya dengan Samurai justru membuat dirinya kagum dengan segala kehidupan mereka. Kehormatan, kedisiplinan, dan perjuangan yang tak pernah ia lihat akhirnya dia temui pada Samurai. Hal ini membuat tujuannya berada di Jepang pun berubah dan akhirnya memilih berjuang bersama Samurai.

Film besutan Edward Zwick ini mampu membuat penonton yang serius menyaksikan film ini merinding berkali – kali. Momen – momen yang dramatis dibalut rasa haru dan kagum kepada para Samurai menjadi nilai lebih untuk film ini. Pemeranan tokoh yang luar biasa dari Tom Cruise untuk membintangi film ini tidak perlu diragukan lagi. Dia pun membawa suasana film ini semakin menarik untuk ditonton. Edward Zwick juga mempercayakan pembuatan musik pengiring kepada Hans Zimmer untuk menjadikan semua peristiwa dalam film semakin dramatis yang dapat membuat penonton hanyut dalam tekanan emosional yang disajikan.

Kodein Online by Ariyo Mukti

Namun, film yang disutradarai oleh Edward Zwick ini bukan berarti tidak memiliki kekurangan terutama saat film ini dihubungkan dengan logika. Cukup banyak hal – hal yang terlalu mendramatisir dan hampir tidak mungkin terjadi. Beberapa orang yang telah menonton film ini mungkin akan melihat keganjilan pada beberapa momen yang seharusnya tidak mungkin terjadi. Durasi film yang terlalu lama memungkinkan para penonton bosan. Hal ini dapat membuat nilai yang ingin disampaikan dalam film ini kepada para penonton justru sirna karena drama yang telalu panjang. Selain itu penyajian film dalam teknik sinematografi terbilang kurang baik, khususnya pergantian scene dan waktu dalam film yang kurang cocok dan terkesan tidak sinkron. Namun, dari sudut pengambilan gambar dan latar dapat diacungi jempol.

Film ini layak ditonton untuk kamu yang ingin merasakan bagaimana kehidupan yang dramatis dari para kesatria Jepang ini. Nilai kemanusiaan dan kehormatan yang tinggi semakin meningkatkan rasa penasaran untuk menontonnya.

 

Teks: Ariyo Mukti (Ilmu Pemerintahan 2015)

Foto: http://www.imdb.com/title/tt0325710/mediaviewer/rm1319800064

Editor: Audita Widya Pinasthika

Redaktur Pelaksana: Finky Ariandi

lpm opini

Lpm Opini adalah lembaga pers mahasiswa Universitas Diponegoro khususnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Lpm Opini berdiri sejak 23 April 1985 Isi dari web ini adalah tentang Undip dan Fisip serta Berita seputar Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *