Peran Besar Mahasiswa sebagai Mitra Kritis Pemerintah

Semarang – Aksi Zaadit Taqwa, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) yang mengajukan kartu kuning pada Presiden Joko Widodo saat perayaan Dies Natalis UI di Balairung, Depok, Jawa Barat, Jumat (2/2), membelah opini publik. Pro-kontra bermunculan atas kritiknya terhadap pemerintah. Aksi ini dinilai cukup berani dan berhasil menaikkan atensi dari khalayak, meski sebagian berpendapat bahwa ini adalah aksi yang tidak bijaksana dan tidak mempertimbangkan nilai etis.

Sebagai sesama ketua BEM Universitas, Abdurrohman Hizbullah, ketua BEM Universitas Diponegoro (Undip) 2018 menilai aksi ini cukup tepat dan elegan untuk mengangkat suatu isu agar mampu menarik perhatian masyarakat.

“Kedatangan Presiden ke Universitas Indonesia merupakan momen yang penting. Momen penting harus dimanfaatkan. Posisi BEM sebagai social control atas kebijakan pemerintah dan mitra kritis pemerintah.” kata Abdurrohman  (15/2). “Pemerintah memiliki banyak data dari hasil riset, tetapi mereka tidak memiliki pengusung suara rakyat. Dan di sinilah peran mahasiswa sebagai penyambung lidah rakyat,” tambahnya.

Selain itu, salah satu mahasiswa Administrasi Publik 2014, Kartiko Bramantyo, bahkan sempat mengunggah tulisannya terkait Aksi Kartu Kuning di media sosial LINE beberapa waktu lalu. Ia menyebutkan bahwa aksi tersebut merupakan titik balik yang bagus dari mahasiswa. Mahasiswa memiliki momentum untuk bisa menunjukkan bahwa mereka masih ada sebagai rekan pemerintah.

“Namun, setelah momentum tersebut, aksi-aksi setelahnya tidak menunjukkan kekonkritan tentang apa yang ingin dicapai. Seperti ketika para ketua BEM diundang ke Mata Najwa dan Dua Sisi, mereka tidak bisa memberikan pemahaman secara komperhensif kepada masyarakat bahwa ada apa dengan negara ini sebenarnya. Tetapi, jika media tidak mengangkat permasalahan ini, jika mahasiswa tidak memiliki atensi pada masalah ini, mungkin Presiden pun bisa lalai menanggapi KLB di Asmat sana.” Ujar Kartiko (14/2).

Mahasiswa sebagai pemuda dengan intelektualitas dan idealisme yang menjadi kekuatannya, dipercaya mampu untuk membawa perubahan. Mahasiswa sebagai kontrol sosial dan agen perubahan, tidak hanya menyandang tanggung jawab akademik, tetapi juga harus berperan aktif sebagai penyambung lidah rakyat dan mitra kritis pemerintah.

 

Teks & Foto: Ikhsanny Novira Ishlah

Editor: Audita Widya Pinasthika

Redaktur Pelaksana: Ratih Latifah Murniati

lpm opini

Lpm Opini adalah lembaga pers mahasiswa Universitas Diponegoro khususnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Lpm Opini berdiri sejak 23 April 1985 Isi dari web ini adalah tentang Undip dan Fisip serta Berita seputar Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *