Aksi Kartu Kuning: Momentum untuk Menumbuhkan Daya Kritis Mahasiswa

Semarang – Aksi Kartu Kuning yang dilakukan oleh Zaadit Taqwa, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), kepada Presiden Jokowi pada perayaan Dies Natalis UI ke-68 pada jumat, (02/02) menuai banyak pro dan kontra. Pasalnya, banyak dari kalangan masyarakat terutama dari civitas akademika UI sendiri menilai bahwa aksi tersebut tidak pantas dilancarkan di tengah suasana khidmat perayaan acara tersebut. Namun, banyak pula kalangan masyarakat yang berpendapat jika aksi tersebut tergolong aksi yang biasa, dalam artian aksi itu sah-sah saja dilakukan sebagai bentuk ekspresi demokrasi dari rakyat kepada pemerintahnya.

Menanggapi hal ini, Laila Firdaus, Dosen Departemen Politik dan Pemerintahan Universitas Diponegoro menganggap aksi itu adalah hal yang wajar dilakukan. Terutama dari kalangan mahasiswa yang menyuarakan aspirasi kepada pemerintah.  Justru dengan kejadian itu ada hal yang bisa dipelajari. Bahwa mahasiswa masih berproses yang tentu prosesnya tidak sebentar, dalam proses itulah mahasiswa bisa berkembang. Laila memaparkan bahwa segala sesuatu yang bersumber untuk mewakili suara mahasiswa bisa dipertanggungjawabkan.

“Anak-anak itu sering lupa kalo sebelum ngomong atau nulis itu harus riset dulu. Karena akan beda orang yang riset, tapi kita bisa belajar dari Zaadit itu, keberaniannya misalnya. Mengkritik itu tidak harus memberi solusi, karena dilihat dari bebannya juga, namun kritik harus diimbangi dengan riset yang mendalam. Pendapat itu mungkin muncul karena banyak orang yang omong doang, but they’re doing nothing, jadi omongan-omongan itu yang malah menghambat.” kata Laila, Selasa di Ruang Dosen Departemen Politik dan Pemerintahan FISIP Undip (13/02).

Kemudian Laila juga menyinggung tantangan yang  harus dihadapi mahasiswa sekarang terkait mudahnya akses komunikasi dan fasilitas yang lengkap, mahasiswa harus lebih meningkatkan kesadaran politiknya. Hal lain yang dibutuhkan adalah daya kritisme yang merupakan bentuk kesadaran sebagai warga negara.

Laila berpesan agar kepada mahasiswa agar mampu  mengasah kritisisme sehingga saat mengkritik mampu membawakan pesan itu dengan baik, tidak hanya ke pemerintah tapi juga ke khalayak.

“Perkuat sense of citizenship dengan cara mengasah daya kritis mahasiswa itu, supaya ‘kecelakaan’ macam Zaadit itu tidak terjadi. Saya bilang ‘kecelakaan’ karena dia terlanjur berani, beraninya oke, namun kalo dia riset hasilnya akan beda. Mahasiswa asah kritisisme, pupuk kecurigaan, dan dari situ kan mau belajar. Jadi dia kritis. Selain yang mengkritik harus riset dahulu, sebagai warganet juga harus riset.” ucap Laila.

 

Teks: Dian Rahma Fika Alnina

Foto: Ikhsanny Novira Ishlah

Editor: Audita Widya Pinasthika

Redaktur Pelaksana: Ratih Latifah Murniati

lpm opini

Lpm Opini adalah lembaga pers mahasiswa Universitas Diponegoro khususnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Lpm Opini berdiri sejak 23 April 1985 Isi dari web ini adalah tentang Undip dan Fisip serta Berita seputar Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *