Hampir Dibubarkan, Diskusi UKT Tetap Berjalan

Senin sore (14/5) halaman Widya Puraya Undip ramai oleh mahasiswa dari berbagai aliansi yang berkumpul, duduk melingkar, untuk berdiskusi, bertukar pikiran dan menyamakan persepsi mengenai Uang Kuliah Tunggal (UKT). Diskusi ini diinisiasi oleh para ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) masing-masing Fakultas di Universitas Diponegoro (Undip).

Meski UKT adalah isu lama dan rutin muncul setiap tahun, namun, UKT tetap menarik untuk diangkat ke permukaan. Isu ini berkembang setiap tahunnya dengan berbagai sub-isu di dalamnya. Tahun ini misalnya, UKT semester lanjut, biaya SPI dan penetapan UKT golongan 7 bagi mahasiswa yang masuk melalui jalur Ujian Mandiri (UM), hingga pengawalan Student Loan, terasa hangat untuk dibicarakan.

Diskusi ini merupakan kali keempat setelah sebelumnya diadakan di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) pada kali pertama dan kedua, kemudian disusul diskusi yang bertempat di Sekolah Vokasi (SV) untuk yang ketiga. Dikarenakan hasil yang diperoleh dari diskusi-diskusi sebelumnya masih dianggap mengambang, maka diadakan diskusi lanjutan di halaman Widya Puraya. Selain itu, Dewi Fitriyanti, selaku Kepala Bidang Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa (Advokesma) BEM Undip, mengungkapkan bahwa diskusi juga dilakukan sebagai pemantik dan sarana propaganda untuk menyadarkan mahasiswa bahwa UKT kita sedang tidak baik-baik saja.

Meski diskusi awalnya terlihat biasa saja, seperti diskusi-diskusi lain pada umumnya, namun tak lama setelah itu, Direktorat Kemahasiswaan (Dirmawa) mendatangi peserta diskusi. Dewi menceritakan, pihak rektorat mengajak mahasiswa untuk berdiskusi langsung bersama rektor agar terhindar dari kesalahpahaman.

“Cuma, pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya pun, ketika kita berdiskusi bersama rektor, kita sudah tahu ‘oh, nanti jawabannya pasti bakal kayak gini,’ dan pihak birokrat pun juga sudah tahu bakal nyiapin jawaban seperti apa. Jadi, sebenarnya kita sudah sama-sama jenuh, gitu, loh,” ujar Dewi.

Namun, diskusi tetap berlanjut diawasi oleh Dirmawa dan beberapa orang satpam, dengan kesepakatan untuk tidak membahas UKT agar diskusi tidak dibubarkan. Diskusi kemudian berfokus membahas Student Loan meski beberapa kali ditegur dan didesak untuk menyudahi diskusi sesegera mungkin.

Diskusi disudahi saat memasuki waktu maghrib, meskipun masih belum berhasil menemukan solusi untuk permasalahan UKT ini. Rencananya, setelah ini akan ada diskusi lanjutan yang bertempat di Fakultas Kedokteran.

Sebelum membubarkan diri, mereka menggantungkan tulisan-tulisan yang berisi suara kekecewaan terhadap UKT dan digantung di sisi kiri bawah papan nama Widya Puraya setelah sebelumnya meneriakkan jargon, “Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia!”.

Teks dan Foto: Ikhsanny N. Ishlah

Editor: Regina Iswara Pramusita

lpm opini

Lpm Opini adalah lembaga pers mahasiswa Universitas Diponegoro khususnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Lpm Opini berdiri sejak 23 April 1985 Isi dari web ini adalah tentang Undip dan Fisip serta Berita seputar Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *