Marak Bahaya Kejahatan Transnasional, Mahasiswa Tim II KKN Undip Berikan Edukasi Bahaya TKI Ilegal di Desa

Era globalisasi tidak saja memberi kemudahan bagi masyarakat dunia dengan interkonektivitas yang tidak terbatas, globalisasi juga turut berkontribusi dalam melahirkan ancaman-ancaman yang tergolong baru. Berbagai ancaman tersebut datang dalam bentuk tindak kejahatan yang tidak memiliki batasan waktu dan tempat (kejahatan transnasional).

Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat terkait bahaya kejahatan yang bisa timbul dari permasalahan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal ini, kelompok mahasiswa yang tergabung dalam Tim II Kuliah Kerja Nyata Universitas Diponegoro (KKN Undip) 2018 menyelenggarakan edukasi bertajuk “Satu Langkah di Depan dalam Pencegahan Kejahatan Transnasional di Tingkat Desa” pada hari Kamis (9/8) di Balai Desa Sumbersari, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Kegiatan ini merupakan program monodisiplin mahasiswa yang berkolaborasi dengan program Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Undip tahun 2018.

Acara tersebut dimulai pada pukul 09.00 hingga 12.00 WIB dengan dua pembicara yaitu Sharry Charlotte, DPL sekaligus Dosen Hubungan Internasional (HI) Undip, dan Muhammad Fadillah, mahasiswa HI Undip. Penyuluhan upaya pencegahan TKI ilegal ini dihadiri oleh 40 (empat puluh) warga desa sebagai peserta. Kegiatan ini berisi pemaparan tahapan prosedur legal untuk menjadi TKI di luar negeri, persyaratan umum dan khusus, serta berbagai hukum yang mengatur perlindungan TKI di luar negeri.

Menurut Sharry, dari total 54.737 TKI terdapat 2.851 orang berasal dari Kabupaten Pati yang diberagkat sesui prosedur pemerintah. Sedangkan TKI yang berangkat secara ilegal, sangat sulit dipastikan jumlahnya. Ditambah lagi meninggalnya Adelina Lisao di Malaysia awal 2018 lalu yang mendapat perhatian serius, termasuk dari pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Jateng) setelah 73 warga Jateng ditangkap di Malaka. Berdasarkan ata daru Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) tahun 2017, Jateng merupakan penyumbang terbanyak kedua setelah Jawa Timur.

“Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sendiri kesulitan unntuk mendata berapa banyaknya warga yang terjebak jadi TKI ilegal di luar negeri. TKI ilegal ini menjadi sangat rentan terhadap korban kejahatan dan kekerasan di luar negeri sana.” jelas Sharry.

Selain untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar terhindar dari bahaya yang bisa timbul jika menjadi TKI ilegal, tujuan kegiatan ini yaitu pencegahan lebih lanjut adanya TKI ilegal. Melalui edukasi kejahatan transnasional ini warga desa Sumbersari juga dihimbau agar dapat lebih waspada dan peduli terhadap ancaman kejahatan transnasional yang semakin marak di era kontemporer ini.

“Semoga setelah ada penyluhan ini, bisa menambah pengetahuan masyarakat tentang prosuder legal jadi TKI di luar negeri, biar mereka tidak jadi korban kekerasan dan kejahatan transnasional. Ini kan juga bisa membantu kerabat atau keluarga yang mau jadi TKI biar mengikuti prosedur yang telah disiapkan pemerintah. Biar jumlah TKI ilegal semakin berkurang.” kata Sharry, mengenai harapan yang diinginkan.

Oleh : Audita Widya Pinasthika

lpm opini

Lpm Opini adalah lembaga pers mahasiswa Universitas Diponegoro khususnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Lpm Opini berdiri sejak 23 April 1985 Isi dari web ini adalah tentang Undip dan Fisip serta Berita seputar Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *