Pernikahan Dini : Rentan KDRT Hingga Kematian Ibu dan Bayi

Grobogan- Pernikahan Dini menjadi salah satu permasalahan yang belum bisa dituntaskan sampai saat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik dan Unicef tercatat setiap tahun ada 340.000 ribu anak perempuan yang menikah dibawah usia 18 tahun, dan menjadikan Indonesia berada pada peringkat ke-7 angka pernikahan usia dini tertinggi di dunia.

Hal inilah yang kemudian mengilhami tim II KKN Undip untuk menggelar acara sosialisasi tentang edukasi dan bahaya perkawinan dini pada warga Desa Tanjungharjo, Kec.Ngaringan, Grobogan. Dibyo prasetyo, selaku koordinator desa tim KKN Desa Tanjungharjo menuturkan program ini diadakan sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah dalam penurunan angka perkawinan usia dini dan pencegaan ledakan bonus demografi.

“ Kita melihat angka pernikahan dini di Grobogan masih tergolong tinggi, karena itu kita melakukan sosialisasi, agar kedepannya bukan cuma remaja tapi orangtua juga tahu tentang bahaya dari nikah muda,” jelasnya.

Acara ini diadakan di Balai Desa Tanjungharjo, senin (30/07/18) lalu dan dihadiri oleh PKK dan perangkat desa Tanjungharjo, serta BKKBN Kecamatan Ngaringan.

Sosialisasi edukasi dan bahaya perkawinan dini dipilih sebab angka perkawinan dini di Kabupaten Grobogan tergolong tinggi. Berdasarkan data dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2016 mencatat Jawa Tengah termasuk Provinsi dengan angka pernikahan usia dini tertinggi di Indonesia, dengan persentase tertinggi terjadi di Brebes, diikuti Grobogan, Demak, dan Magelang.

Materi yang disampaikan meliputi dua aspek bahaya dari perkawinan usia dini, yaitu dari segi kesehatan dan hukum. Penyampaian materi dilakukan oleh mahasiswa KKN undip, Destia Afta dari Fakultas Kedokteran dan Septidyah dari Fakultas Hukum selaku perwakilan tim KKN. Selain itu penyampaian materi juga didukung Dinarti, selaku perwakilan BKKBN kec.   Ngaringan.

Destia menyampaikan tentang beberapa bahaya perkawinan dini terutama pada wanita, seperti kanker serviks, kematian ibu dan bayi, dan kemungkinan bayi lahir prematur. Pernikahan dini berpotensi memicu kematian ibu dan bayi saat persalinan, karena organ reproduksi perempuan di bawah usia 19 tahun masih belum matang dan bisa beresiko pendarahan saat persalinan.

Sedangkan, Septidyah menjelaskan tentang UU Perkawinan dan nikah siri, dampak pernikahan dini seperti perceraian dan kekerasan seksual. Hal ini dianggap penting karena perkawinan usia dini berpotensi memicu terjadinya KDRT yang berujung pada perceraian. Menurut data Plan Indonesia, sekitar 44 persen pelaku pernikahan dini mengalami kasus kekerasan dalam rumah tangga.

Harapan tim II KKN Undip Desa Tanjungharjo, kegiatan ini dapat memberikan pemahaman lebih bagi masyarakat tentang bahaya dari pernikahan dini dan ikut secara aktif dalam meminimalisir angka perkawinan dibawah umur terutamabagi anak perempuan.

Oleh : Hijrani Sihombing

lpm opini

Lpm Opini adalah lembaga pers mahasiswa Universitas Diponegoro khususnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Lpm Opini berdiri sejak 23 April 1985 Isi dari web ini adalah tentang Undip dan Fisip serta Berita seputar Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *