<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>OPINI ONLINE &#187; Resensi</title>
	<atom:link href="http://www.majalahopini.com/category/resensi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.majalahopini.com</link>
	<description>Go Online Journalism</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Jan 2012 16:55:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
		<item>
		<title>Manusia Setengah Salmon: Sebuah kepastian dan keberanian untuk pindah</title>
		<link>http://www.majalahopini.com/2012/01/17/manusia-setengah-salmon-sebuah-kepastian-dan-keberanian-untuk-pindah/</link>
		<comments>http://www.majalahopini.com/2012/01/17/manusia-setengah-salmon-sebuah-kepastian-dan-keberanian-untuk-pindah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 16:34:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lpm opini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.majalahopini.com/?p=1248</guid>
		<description><![CDATA[ Judul : Manusia Setengah Salmon Penulis : Raditya Dika Jumlah Halaman : 272 Penerbit : Gagas Media “Hidup sesungguhnya adalah potongan-potongan antara perpindahan satu dengan yang lainnya. Kita hidup diantaranya.” -Manusia Setengah Salmon halaman 254-. Kutipan di atas diambil dari buku karya penulis muda, Raditya Dika, baru saja terbit pada tanggal 24 Desember 2011 yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong>Judul : Manusia Setengah Salmon</p>
<p>Penulis : Raditya Dika</p>
<p>Jumlah Halaman : 272</p>
<p style="text-align: left;" align="center">Penerbit : Gagas Media<strong><br />
</strong></p>
<p><em>“Hidup sesungguhnya adalah potongan-potongan antara perpindahan satu dengan yang lainnya. Kita hidup diantaranya.” -Manusia Setengah Salmon halaman 254-</em>.</p>
<p>Kutipan di atas diambil dari buku karya penulis muda, Raditya Dika, baru saja terbit pada tanggal 24 Desember 2011 yang lalu. Buku ke-6 ini masih ber-<em>genre</em> komedi dan non-fiksi. Di dalamnya berisi cerita-cerita baru, adapula yang diambil dari tulisan-tulisan di blog, serta cerita-cerita olahan yang diambil dari tweet-tweet <em>account</em> twitternya, @radityadika dan terrangkai dalam 19 bab.Bercerita tentang senam kentut pun menjadi pembuka buku ini. Kebiasaan ayahnya setiap pagi ini, tak jarang mengundang banyak tawa dari pembacanya. Ada juga beberapa bab yang biasa disebut-sebut anak muda saat ini, galau. Seperti bab <em>Sepotong Hati di Dalam Kardus Cokelat</em>, <em>Mencari Rumah Sempurna</em>, sampai bab <em>Manusia Setengah Salmon</em> yang berada pada bab 19. Namun, secara keseluruhan buku ini bercerita tentang kepindahan, dari pindah rumah sampai pindah hati. Gaya penulisan Raditya Dika di buku <em>Manusia Setengah Salmon</em> ini sama seperti buku sebelumnya, <em>Marmut Merah Jambu</em>. Ada horror, galau, tapi tetap diselipkan sisi komedinya.</p>
<p>Buat yang penasaran sama isi buku <em>Manusia Setengah Salmon</em> ini,  Buku ini dapat diperoleh di toko-toko buku terdekat. Buat yang bingung mau mengisi liburannya dengan apa, Buku ini dapat menjadi alternatif. Enjoy!</p>
<p align="right">
<p align="right">Yuli Kurniawaty</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalahopini.com/2012/01/17/manusia-setengah-salmon-sebuah-kepastian-dan-keberanian-untuk-pindah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Miskin Kok Mau Sekolah..?!” Sekolah dari Hongkong&#8230;!!!</title>
		<link>http://www.majalahopini.com/2012/01/13/%e2%80%9cmiskin-kok-mau-sekolah-%e2%80%9d-sekolah-dari-hongkong/</link>
		<comments>http://www.majalahopini.com/2012/01/13/%e2%80%9cmiskin-kok-mau-sekolah-%e2%80%9d-sekolah-dari-hongkong/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 14:42:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lpm opini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.majalahopini.com/?p=1226</guid>
		<description><![CDATA[Judul: “Miskin Kok Mau Sekolah..?!” Sekolah dari Hongkong&#8230;!!! Halaman: 392 halaman Penerbit: DIVA Press &#160; Sekolah merupakan tempat dimana seorang individu ditempa oleh ilmu agar ia menjadi pandai. Lebih lanjut, sekolah menjadi sarana belajar seseorang agar ia mengetahui dan memahami mana yang baik dan mana yang buruk. Ilmu yang didapatkan dari sekolah tersebut, diharapkan nantinya dapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul: “Miskin Kok Mau Sekolah..?!” Sekolah dari Hongkong&#8230;!!!</p>
<p>Halaman: 392 halaman</p>
<p>Penerbit: DIVA Press</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sekolah merupakan tempat dimana seorang individu ditempa oleh ilmu agar ia menjadi pandai. Lebih lanjut, sekolah menjadi sarana belajar seseorang agar ia mengetahui dan memahami mana yang baik dan mana yang buruk. Ilmu yang didapatkan dari sekolah tersebut, diharapkan nantinya dapat membuat seseorang itu mampu menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan yang akan dilaluinya. Akan tetapi, seiring prosesnya sekolah justru dijadikan sebagai suatu lahan industri. Industrialisasi pendidikan ini membuat kebutuhan pendidikan tidak bisa lagi dipenuhi oleh semua kalangan dan strata sosial dalam masyarakat. Hanya masyarakat berduit saja yang mampu mengenyam pendidikan berkualitas baik. Sementara masyarakat miskin? Dipersilakan untuk duduk di bangku reyot sekolah kualitas rendah, bahkan juga dilarang untuk sekolah!</p>
<p>Setidaknya itulah garis besar yang diceritakan Wiwid Prasetyo dalam novelnya, <em>“Miskin </em>Kok<em> Mau Sekolah..?!” Sekolah dari Hongkong&#8230;!!!</em> Dalam novel yang ia tulis tahun 2009 ini ia mencoba mengkritisi sistem pendidikan yang ia anggap diskriminatif dengan cara menggambarkan betapa susahnya masyarakat miskin untuk sekolah. Dengan mengambil latar tempat di Ibu Kota Jakarta, Wiwid menempatkan empat orang anak berusia 10 hingga 12 tahun sebagai tokoh utama dalam novelnya. Mereka bernama Riris, Budi Totol, Slamet Garuk dan Iwan Grumpung. Keempat anak tersebut berasal dari keluarga miskin yang tinggal di salah satu daerah kumuh di sudut Kota Jakarta. Kondisi keuangan keluarga mereka yang serba pas-pasan memaksa mereka untuk bekerja apa saja membantu perekonomian keluarga. Karena itulah mereka tidak bersekolah dan menjadi individu yang buta aksara.</p>
<p>Novel karya Wiwid ini dimulai dengan pertemuan antara Riris, Budi Totol, Slamet Garuk dan Iwan Grumpung. Mereka berempat hidup di jalanan dimana merupakan lingkungan yang keras. Sama seperti anak yang lainnya, mereka juga ingin bersekolah. Tapi apa daya, uang bak menjauh dari kantung keluarga mereka. Walaupun diselimuti oleh kondisi sedemikian rupa susahnya, mereka memiliki satu mimpi yakni pergi ke Perancis untuk memandang menara Eiffel dengan mata mereka sendiri. Jadilah mereka memulai mimpi mereka itu dengan merantau dan bekerja di berbagai tempat dengan terus berharap mimpi mereka tersebut dapat tercapai. Dalam perantauan mereka itulah mereka mengalami berbagai kejadian, yang tak hanya menyenangkan tapi juga kejadian menyedihkan, memalukan, dan membingungkan.</p>
<p>Novel ini dikemas dengan cukup apik sehingga dapat menarik perhatian pembaca yang melihatnya. Hal tersebut tergambar salah satunya melalui judulnya yang provokatif. Di samping itu, cover novel ini terlihat padu padan dengan cerita yang ingin pengarang utarakan. Akan tetapi, dalam novel ini kurang ada sinkronisasi antara karakter tokoh dan pola pikir serta ucapan-ucapannya. Seringkali akan dijumpai pemikiran dan ucapan-ucapan tokoh utama yang cenderung bersifat ilmiah dan tidak cocok apabila diucapkan oleh anak berusia dibawah 13 tahun dan tidak pernah bersekolah. Ketidakcocokan tersebut berpotensi membingungkan pembaca dalam memahami novel karya Wiwid ini. Terlepas dari segala kelebihan dan kekurangannya, novel ini bisa jadi cukup inspiratif. Pasalnya, ide yang dituangkan oleh Wiwid melalui novelnya ini seolah “menyentil” dunia pendidikan di Indonesia yang kerap didengungkan dengan jargon, “orang miskin dilarang sekolah!!!”.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;">Pundan Rama Danumardhany</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalahopini.com/2012/01/13/%e2%80%9cmiskin-kok-mau-sekolah-%e2%80%9d-sekolah-dari-hongkong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Resensi Buku : Pak Beye dan Politiknya</title>
		<link>http://www.majalahopini.com/2011/10/09/resensi-buku-pak-beye-dan-politiknya/</link>
		<comments>http://www.majalahopini.com/2011/10/09/resensi-buku-pak-beye-dan-politiknya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Oct 2011 11:58:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lpm opini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.majalahopini.com/?p=926</guid>
		<description><![CDATA[Judul       : PAK BEYE DAN POLITIKNYA Penerbit   : PT Kompas Media Nusantara Halaman  : 431 halaman Politik dan Partai Demokrat adalah bagian penting dalam kehidupan sang presiden. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menaiki kereta politiknya partai demokrat SBY terpilih langsung sebagai persiden RI untuk periode 2004-2009 dan 2009-2014 yang dipilih secara langsung oleh rakyat Pencitraan sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_927" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-927" href="http://www.majalahopini.com/2011/10/09/resensi-buku-pak-beye-dan-politiknya/pak_beye_dan_politiknya_by_ilovemubs-d2zs6ob/"><img class="size-medium wp-image-927" title="pak_beye_dan_politiknya_by_ilovemubs-d2zs6ob" src="http://www.majalahopini.com/wp-content/uploads/pak_beye_dan_politiknya_by_ilovemubs-d2zs6ob-300x214.jpg" alt="pak_beye_dan_politiknya_by_ilovemubs-d2zs6ob" width="300" height="214" /></a><p class="wp-caption-text">Cover depan dan cover belakang Buku Pak Beye dan Politiknya ( google images )</p></div>
<p>Judul        : PAK BEYE DAN POLITIKNYA</p>
<p>Penerbit   : PT Kompas Media Nusantara</p>
<p>Halaman  : 431 halaman</p>
<p>Politik dan Partai Demokrat adalah bagian penting dalam kehidupan sang presiden. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menaiki kereta politiknya partai demokrat SBY terpilih langsung sebagai persiden RI untuk periode 2004-2009 dan 2009-2014 yang dipilih secara langsung oleh rakyat</p>
<p>Pencitraan sebagai strategi dan trik berpolitik yang kerap dilihatkan pada SBY,namun pak beye konsisten dengan cara berpolitiknya demi menjadi orang nomor satu di Indonesia. Lepas dari cara berpolitik pak beye. Banyak hal yang ditampilkan dalam tertalogi SBY ini diantaranya kembali lagi pada saat-saat partai pak beye melakukan kampanye keliling Indonesia. Banyak orang-orang penting yang berdiri dibelakang pak beye diantaranya purnawirawan jenderal,pengusaha serta tidak lupa disisipkan artis-artis yang sedang naik daun tentunya,lalu timbul banyak omongan-omongan dalam masyarakat sebenarnya berapa besar dana yang digunakan partai pak beye saat berlangsungnya kampanye ? serta tidak lupa dikulas juga mengenai mitos-mitos nomor keberuntungan partai demokrat dan SBY.</p>
<p style="text-align: right;"><em>-Bayu Indra Permana-</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalahopini.com/2011/10/09/resensi-buku-pak-beye-dan-politiknya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Main-Main Jadi Bukan Main</title>
		<link>http://www.majalahopini.com/2011/01/24/main-main-jadi-bukan-main/</link>
		<comments>http://www.majalahopini.com/2011/01/24/main-main-jadi-bukan-main/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Jan 2011 12:18:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lpm opini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[warkop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.majalahopini.com/?p=746</guid>
		<description><![CDATA[Judul :Main-Main Jadi Bukan Main Halaman :276 halaman Penerbit T Gramedia Siapa yang tidak mengenal Dono,Kasino,Indro? Hampir semua orang pasti mengenal mereka. Namun,apakah mereka mengerti bahwa anggota Warkop sebenarnya ada lima? Apakah mereka tau kalau Dono adalah Dosen sosiologi UI? Jawabannya belum tentu mereka paham. Didalam buku setebal 276 halaman ini kita akan dibawa menuju [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px 'Times New Roman';"><a rel="attachment wp-att-747" href="http://www.majalahopini.com/2011/01/24/main-main-jadi-bukan-main/warkop/"><img class="alignleft size-full wp-image-747" title="warkop" src="http://www.majalahopini.com/wp-content/uploads/warkop.jpg" alt="warkop" width="300" height="234" /></a>Judul<span style="white-space: pre;"> </span>:Main-Main Jadi Bukan Main</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px 'Times New Roman';">Halaman<span style="white-space: pre;"> </span>:276 halaman</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px 'Times New Roman';">Penerbit<span style="white-space: pre;"> </span> <img src='http://www.majalahopini.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> T Gramedia</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px 'Times New Roman'; min-height: 15.0px;">
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px 'Times New Roman';"><span style="white-space: pre;"> </span>Siapa yang tidak mengenal Dono,Kasino,Indro? Hampir semua orang pasti mengenal mereka. Namun,apakah mereka mengerti bahwa anggota Warkop sebenarnya ada lima? Apakah mereka tau kalau Dono adalah Dosen sosiologi UI? Jawabannya belum tentu mereka paham. Didalam buku setebal 276 halaman ini kita akan dibawa menuju sejarah anjang perjalanan Warkop dari area kampus menuju pelosok nusantara.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px 'Times New Roman';"><span style="white-space: pre;"> </span>Buku ini banyak mengungkap tentang warkop,mulai dari era terbentuknya yang dari teman sesama anggota Mapala,kemudian sering kumpul bersama,siaran radio,hingga akting dalam film. Membicarakan Warkop seolah tidak ada habisnya. Mereka bertiga bisa dibilang adalah legenda komedi di Indonesia. Mereka adalah pelopor guyonan intelektual yang juga berasal dari latar belakang mereka yang berasal dari Fisip UI.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px 'Times New Roman';"><span style="white-space: pre;"> </span>Sebuah buku yang ditulis secara keroyokan oleh Rudy Badil,Indro,Budiarto Shambazy,Denny Sakrie, dan Eddy Suhardy ini akan membawa kita menuju Warkop yang tidak hanya seorang Dono, warkop yang tidak hanya dikelilingi wanita-wanita. Tapi Warkop yang menjadi legenda komedi Indonesia.</p>
<div><span style="font-family: 'Times New Roman', 'Times New Roman', 'Bitstream Charter', Times, serif; font-size: small;"><span style="line-height: normal;"><br />
</span></span></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalahopini.com/2011/01/24/main-main-jadi-bukan-main/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Matikan TV-Mu</title>
		<link>http://www.majalahopini.com/2011/01/01/matikan-tv-mu/</link>
		<comments>http://www.majalahopini.com/2011/01/01/matikan-tv-mu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Jan 2011 07:48:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lpm opini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.majalahopini.com/?p=713</guid>
		<description><![CDATA[Judul       : Matikan TV-mu! (Teror Media Televisi di Indonesia) Halaman : 178 halaman. Penerbit  : RESIST BOOK Televisi membawa kebrutalan perang kedalam ruang keluarga yang nyaman. Vietnam takluk dalam ruang-ruang keluarga Amerika bukan di medan perang Vietnam. ( Marshall Mcluhan ) Ketika aku mendapat televise pertamaku,aku tak lagi peduli pada hubungan dekat. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-712" href="http://www.majalahopini.com/2011/01/01/matikan-tv-mu/matikan-tv-mu-2/"><img class="alignleft size-medium wp-image-712" title="Matikan-TV-Mu" src="http://www.majalahopini.com/wp-content/uploads/Matikan-TV-Mu-195x300.jpg" alt="Matikan-TV-Mu" width="195" height="300" /></a></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px 'Times New Roman';">
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px 'Times New Roman';">
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px 'Times New Roman';">Judul       : Matikan TV-mu! (Teror Media Televisi di Indonesia)</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px 'Times New Roman';">Halaman : 178 halaman.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px 'Times New Roman';">Penerbit  : RESIST BOOK</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px 'Times New Roman'; min-height: 15.0px;">
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px 'Times New Roman';">Televisi membawa kebrutalan perang kedalam ruang keluarga yang nyaman. Vietnam takluk dalam ruang-ruang keluarga Amerika bukan di medan perang Vietnam. ( Marshall Mcluhan )</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px 'Times New Roman';">Ketika aku mendapat televise pertamaku,aku tak lagi peduli pada hubungan dekat. ( Andy Warhol ). Itu merupakan beberapa pendapat tokoh mengenai televise. Dalam buku ini juga dipaparkan peranan sentral seorang Presiden Soeharto yang menjadikan TVRI sebagai media pemerintah bukan sebagai media massa. Pada akhirnya,sebagai media pemerintah TVRI praktis menjadi alat politik pemerintah dalam pengertian yang sempit,serta munculnya beberapa televise swasta diantaranya adalah RCTI,SCTV,TPI,ANTV,Indosiar dll. Kemunculan beberapa TV swasta pun tidak lepas dari genggaman keluarga cendana. Bisa dilihat pada kemunculan RCTI ( Bambang Trihatmojo ),SCTV ( Sudwikatmono,saudara Soeharto ),TPI ( Sitti Hardityanti Indra Rukmana,anak Soeharto ),ANTV ( Aburizal Bakrie,koneksi cendana ) hingga Indosiar ( Antony Salim,putra Liem Swie Liong,koneksi cendana )</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px 'Times New Roman';">Pada pertengahan Bab pada buku ini juga di ulas mengenai pengaruh televise secara umum. Bujuk rayu media seolah menawarkan kebebasan dan kesetaraan namun semua itu hanya rayuan virtual agar masyarakat terus masuk ke gebyar kehidupan baru.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px 'Times New Roman';">Dalam masyarakat <em>non-literacy</em> yang memiliki daya rendah media televise dijadikan rujukan,sumber referensi. Bahkan sumber inspirasi serta motivasi. Media TV memiliki kecenderungan mengantungkan masyarakat untuk tudak kemana-mana,ketergantungan tersebut sengaja dibuat karena berkaitan dengan keberlangsungan media televise itu sendiri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalahopini.com/2011/01/01/matikan-tv-mu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ber-Vakansi Ria Bersama White Shoes &amp; The Couple Company</title>
		<link>http://www.majalahopini.com/2010/11/23/ber-vakansi-ria-bersama-white-shoes-the-couple-company/</link>
		<comments>http://www.majalahopini.com/2010/11/23/ber-vakansi-ria-bersama-white-shoes-the-couple-company/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Nov 2010 16:23:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lpm opini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.majalahopini.com/?p=675</guid>
		<description><![CDATA[Berlibur adalah hobi bagi setiap insan manusia di dunia ini. Meninggalkan penat aktivitas kerja dan kuliah. Sedikit berjalan entah ke pusat perbelanjaan,tempat wisata diseluruh nusantara, atau mungkin pergi ke ujung dunia. Tidak hanya kita yang ingin berlibur namun White Shoes &#38; The Couples Company menginginkan sebuah Vakansi yang kemudian menjadi judul album terbaru mereka. Dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="font: normal normal normal 12px/normal 'Times New Roman'; text-align: justify; margin: 0px;"><span style="white-space: pre;"> <a rel="attachment wp-att-676" href="http://www.majalahopini.com/2010/11/23/ber-vakansi-ria-bersama-white-shoes-the-couple-company/wss-1/"><img class="alignleft size-medium wp-image-676" title="wss-1" src="http://www.majalahopini.com/wp-content/uploads/wss-1-300x225.jpg" alt="wss-1" width="300" height="225" /></a></span>Berlibur adalah hobi bagi setiap insan manusia di dunia ini. Meninggalkan penat aktivitas kerja dan kuliah. Sedikit berjalan entah ke pusat perbelanjaan,tempat wisata diseluruh nusantara, atau mungkin pergi ke ujung dunia. Tidak hanya kita yang ingin berlibur namun White Shoes &amp; The Couples Company menginginkan sebuah Vakansi yang kemudian menjadi judul album terbaru mereka. Dengan banyak pengalaman mereka mengunjungi daerah-daerah di negeri ini dan pengalaman mengunjungi berbagai negara seolah-olah mereka sedang mendongengkan kita tentang bepergian menuju tempat yang membawa kita menuju keceriaan hati.</p>
<p style="font: normal normal normal 12px/normal 'Times New Roman'; text-align: justify; margin: 0px;"><span style="white-space: pre;"> </span>Dimulai dengan “Berjalan-jalan” sebuah senandung dengan lirik penuh tempat-tempat wisata menarik dari Pulau Bintan hingga Irian jaya. Yang kemudian langsung disusul oleh “Zamrud Khatulistiwa”. White Shoes &amp; The Couples Company pun membawakan kembali nomor legendaris dari karya seorang Fariz RM “Selangkah Kesebrang” bunyi synth yang sangat khas membawa kita menuju era 80an dengan balutan Flute.</p>
<p style="font: normal normal normal 12px/normal 'Times New Roman'; text-align: justify; margin: 0px;"><span style="white-space: pre;"> </span>“Kampus Kemarau” bisa menjadi theme song bagi mahasiswa Fisip Undip dimana kampus yang gersang membuat kita memohon agar sang surya hendak besembunyi sejenak saja. Yang juga dipenuhi orkestra violin,klarinet,flute. Kemudian White Shoes &amp; The Couples Company mengajak seorang maestro jazz Indonesia dalam “Vakansi”. Oele Pattiselano digandeng untuk mengisi bagian elektrik gitar.</p>
<p style="font: normal normal normal 12px/normal 'Times New Roman'; text-align: justify; margin: 0px;"><span style="white-space: pre;"> </span>Dan perjalanan Vakansi ini berakhir dengan “Matahari” sebuah nada yang membawa kita menuju ujung timur Indonesia yakni Papua dengan lirik yang cukup menggelitik.</p>
<p style="font: normal normal normal 12px/normal 'Times New Roman'; text-align: justify; margin: 0px;"><span style="white-space: pre;"> </span>Nampaknya Aprilia Apsari,Yusmario Farabi,Saleh Husein,Ricky Surya,Aprimela Prawidiyanti,dan John David tahu betul caranya menikmati sebuah vakansi dengan tetap bersyukur akan budaya nusantara. Dalam Vakansi ini selain mengajak Fariz RM dan Oele Pattiselano juga membawa Tzaboo Donald Warere serta Ade Paloh ex-vokalis Sore dan juga Mondo Gascaro,Dono Firman dari Sore ikut pula David Tarigan.</p>
<p style="font: normal normal normal 12px/normal 'Times New Roman'; text-align: justify; margin: 0px;"><span style="white-space: pre;"> </span>Sebuah album yang bisa kita bawa menemani liburan ketika kemanapun kita menuju bersama keluarga,kerabat,serta kekasih sembari menatap senja yang semakin menggila.</p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px 'Times New Roman'; min-height: 15.0px;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalahopini.com/2010/11/23/ber-vakansi-ria-bersama-white-shoes-the-couple-company/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Soe Hok Gie: Sekali Lagi&#8230;</title>
		<link>http://www.majalahopini.com/2010/10/09/soe-hok-gie-sekali-lagi/</link>
		<comments>http://www.majalahopini.com/2010/10/09/soe-hok-gie-sekali-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Oct 2010 03:16:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lpm opini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.majalahopini.com/?p=637</guid>
		<description><![CDATA[Menghidupkan kembali sosok Soe Hok Gie. Setelah buku sebelumnya Catatan Seorang Demonstran I dan II Soe Hok Gie sekali lagi kembali bercerita tentang pemuda kritis dengan semangat nasionalisme yang tinggi. Jika membaca halaman demi halaman mungkin akan muncul dalam benak kita rasa heroic kepahlawanan yang kuat pada diri seorang hok gie.pemuda bertubuh kecil yang berani [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-638" href="http://www.majalahopini.com/2010/10/09/soe-hok-gie-sekali-lagi/soe_hok_gie_sekali_lagi/"><img class="alignleft size-medium wp-image-638" title="soe_hok_gie_sekali_lagi" src="http://www.majalahopini.com/wp-content/uploads/soe_hok_gie_sekali_lagi-239x300.jpg" alt="soe_hok_gie_sekali_lagi" width="239" height="300" /></a>Menghidupkan kembali sosok Soe Hok Gie. Setelah buku sebelumnya Catatan Seorang Demonstran I dan II Soe Hok Gie sekali lagi kembali bercerita tentang pemuda kritis dengan semangat nasionalisme yang tinggi.</p>
<p>Jika membaca halaman demi halaman mungkin akan muncul dalam benak kita rasa heroic kepahlawanan yang kuat pada diri seorang hok gie.pemuda bertubuh kecil yang berani menantang tirani sebuah rezim,namun sayang belum genap usianya ke 27 tahun Gie harus dipanggil di usianya yang tergolong masih muda tepat sehari sebelum hari ulang tahunnya pada tanggal 17 Desember 1969.Gie memang berencana untuk ke gunung semeru bersama rekan-rekannya Herman Lantang,Idhan Lubis,Aristides Katoppo,Maman Abdurachman dan Wiwiek Anton Wijaya sekalian juga berencana untuk merayakan hari ulang tahun hok gie di tanah tertinggi di pulau jawa,namun tuhan berkehendak lain.hingga kini kematian hok gie masih sangat misterius.</p>
<p>Mahasiswa UI yang terkenal dengan jargon buku,pesta dan cinta adalah seorang Indonesia sejati yang sudah melupakan identitasnya sebagai seorang keturunan tiong hoa.<br />
Andai saja Soe Hok Gie masih ada,apa yang akan dia lakukan dimasa pemerintahan sekarang?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalahopini.com/2010/10/09/soe-hok-gie-sekali-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Romantisme,Gelap,Dan Cerianya Seorang Frau</title>
		<link>http://www.majalahopini.com/2010/06/30/romantismegelapdan-cerianya-seorang-frau/</link>
		<comments>http://www.majalahopini.com/2010/06/30/romantismegelapdan-cerianya-seorang-frau/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jun 2010 12:26:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.majalahopini.com/?p=498</guid>
		<description><![CDATA[Bila kita melihat acara musik setiap pagi ditelevisi maka kita sering lihat penyanyi solois wanita yang tampil secara minus one atau lipsing dengan balutan pakaian yang glamor dan sedikit tari-tarian yang menonjolkan lekukan badan. Dan sangat jarang melihat solois wanita itu tampil dengan memainkan instrumen alat musik dan tampil live. Namun bila kita ke kota [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify">
<p><a href="http://www.majalahopini.com/wp-content/uploads/album_art_yesno0421.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-581" title="album_art_yesno042" src="http://www.majalahopini.com/wp-content/uploads/album_art_yesno0421.jpg" alt="album_art_yesno042" width="300" height="240" /></a>Bila kita melihat acara musik setiap pagi ditelevisi maka kita sering lihat penyanyi solois wanita yang tampil secara <em>minus one</em><span style="font-style: normal;"> atau </span><em>lipsing</em><span style="font-style: normal;"> dengan balutan pakaian yang glamor dan sedikit tari-tarian yang menonjolkan lekukan badan. Dan sangat jarang melihat solois wanita itu tampil dengan memainkan instrumen alat musik dan tampil live.<span id="more-498"></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;" align="justify">Namun bila kita ke kota Yogyakarta maka kita akan menemukan sosok Leliani Hermiasih. Atau yang lebih terkenal dengan nama Frau. Frau tampil hanya bermodalkan vokal indah dan dentingan tuts piano yang dimainkan oleh dirinya sendiri melalui Oskar nama piano yang sering dia mainkan.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;" align="justify">Frau hadir menusuk telinga para pendengar musik dengan mengeluarkan Starlit Carousel. Sebuah album yang berisikan enam lagu. Yang diedarkan secara free melalui situs YesNoWave.com .</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;" align="justify">Musik yang terdapat di Starlit Carousel sangat dalam dan bisa dibilang gelap. Alunan tuts piano didalamnya seolah membawa kita sedikit mengawang ke gelapnya malam sambil menembus awan hitam. Track andalan yang sudah banyak dikenal yakni Mesin Penenun Hujan menjadi satu track yang wajib didengar. Dan sebuah kolaborasi dengan Ugoran Prasad dalam Sepasang Kekasih Yang pertama Bercinta Di Luar Angkasa bisa membuat kita penasaran akan sensasi bercinta diluar angkasa seperti yang dilukiskan dalam lagu yakni seperti takkan pernah pulang dan membias diudara dan terhempaskan cahaya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.majalahopini.com/2010/06/30/romantismegelapdan-cerianya-seorang-frau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

