<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Komentar untuk OPINI ONLINE</title>
	<atom:link href="http://www.majalahopini.com/comments/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.majalahopini.com</link>
	<description>Go Online Journalism</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Sep 2010 09:08:08 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Komentar di Mahasiswa Fisip Hobi Mengantri oleh lpm opini</title>
		<link>http://www.majalahopini.com/2010/09/02/mahasiswa-fisip-hobi-mengantri/comment-page-1/#comment-42</link>
		<dc:creator>lpm opini</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2010 09:08:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.majalahopini.com/?p=596#comment-42</guid>
		<description>sabar ya ndan...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>sabar ya ndan&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Mahasiswa Fisip Hobi Mengantri oleh lpm opini</title>
		<link>http://www.majalahopini.com/2010/09/02/mahasiswa-fisip-hobi-mengantri/comment-page-1/#comment-41</link>
		<dc:creator>lpm opini</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2010 08:53:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.majalahopini.com/?p=596#comment-41</guid>
		<description>sudah siapkah kita ntuk online?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>sudah siapkah kita ntuk online?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Mahasiswa Fisip Hobi Mengantri oleh Mirtsa Zahara</title>
		<link>http://www.majalahopini.com/2010/09/02/mahasiswa-fisip-hobi-mengantri/comment-page-1/#comment-40</link>
		<dc:creator>Mirtsa Zahara</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 15:54:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.majalahopini.com/?p=596#comment-40</guid>
		<description>Saya sependapat dengan apa yang diungkapkan oleh saudara Pundan. Senasib dengan datang pukul 06.30 dan baru dapat kesempatan pukul 10.15. Sistem yang ada saat ini cukup merepotkan dengan mengantri di kampus berjam-jam dengan kecepatan input koneksi yang lambat. Dimohon untuk pengelola kampus untuk dapat meningkatkan kualitas dalam hal input KRS agar memudahkan mahasiswanya, terutama untuk mahasiswa yang berada di luar Jawa, kasihan. Semoga suara-suara ini didengar dan segera ditanggapi..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sependapat dengan apa yang diungkapkan oleh saudara Pundan. Senasib dengan datang pukul 06.30 dan baru dapat kesempatan pukul 10.15. Sistem yang ada saat ini cukup merepotkan dengan mengantri di kampus berjam-jam dengan kecepatan input koneksi yang lambat. Dimohon untuk pengelola kampus untuk dapat meningkatkan kualitas dalam hal input KRS agar memudahkan mahasiswanya, terutama untuk mahasiswa yang berada di luar Jawa, kasihan. Semoga suara-suara ini didengar dan segera ditanggapi..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Mahasiswa Fisip Hobi Mengantri oleh pundan rama</title>
		<link>http://www.majalahopini.com/2010/09/02/mahasiswa-fisip-hobi-mengantri/comment-page-1/#comment-39</link>
		<dc:creator>pundan rama</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 13:31:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.majalahopini.com/?p=596#comment-39</guid>
		<description>input KRS di FISIP memang butuh perjuangan dan kesabaran. bagaimana tidak, untuk menginput 1 lembar krs saja sudah memakan waktu 15-20 menit (tergantung jumlah mata kuliah yang diambil. terlebih lagi 1 orang yang mengantre di situ bisa membawa 4-5 lembar krs, bahkan ada yang membawa lebih dari 10 lembar krs titipan. saya sebagai salah satu mahasiswa yang ikut mengantre merasa sangat letih. saya datang jam 08.00 pagi tapi saya baru mendapat giliran menginput sekitar jam 12 siang. dengan kata lain, saya berdiri selama kurang lebih 4 jam. bisa dibayangkan bagaimana rasanya. ditambah lagi itu bertepatan dengan bulan puasa.
dikata capek memang harus sabar, dikata sabar tapi memang rasanya sudah kesal.
semoga untuk ke depannya FISIP bisa menyediakan sarana prasarana serta pelayanan yang baik untuk mahasiswanya, syukur-syukur semester depan untuk urusan KRS dan KHS sudah bisa diurus seperti fakultas lain, yaitu secara Online. semoga.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>input KRS di FISIP memang butuh perjuangan dan kesabaran. bagaimana tidak, untuk menginput 1 lembar krs saja sudah memakan waktu 15-20 menit (tergantung jumlah mata kuliah yang diambil. terlebih lagi 1 orang yang mengantre di situ bisa membawa 4-5 lembar krs, bahkan ada yang membawa lebih dari 10 lembar krs titipan. saya sebagai salah satu mahasiswa yang ikut mengantre merasa sangat letih. saya datang jam 08.00 pagi tapi saya baru mendapat giliran menginput sekitar jam 12 siang. dengan kata lain, saya berdiri selama kurang lebih 4 jam. bisa dibayangkan bagaimana rasanya. ditambah lagi itu bertepatan dengan bulan puasa.<br />
dikata capek memang harus sabar, dikata sabar tapi memang rasanya sudah kesal.<br />
semoga untuk ke depannya FISIP bisa menyediakan sarana prasarana serta pelayanan yang baik untuk mahasiswanya, syukur-syukur semester depan untuk urusan KRS dan KHS sudah bisa diurus seperti fakultas lain, yaitu secara Online. semoga.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Tamparan Pong Harjatmo Bagi Pemerintah oleh Pundan Rama Danumardhany</title>
		<link>http://www.majalahopini.com/2010/07/30/tamparan-pong-harjatmo-bagi-pemerintah/comment-page-1/#comment-38</link>
		<dc:creator>Pundan Rama Danumardhany</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Aug 2010 10:16:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.majalahopini.com/?p=521#comment-38</guid>
		<description>Hanya ada respon dari para petinggi DPR atas aksi Pong Hardjatmo tersebut. Mana respon anggota lain yang (katanya) berjumlah 560 orang? Apa masih sibuk membolos sampai tidak tau gedungnya dicoret-coret? Atau mungkin masih tertidur? Digaji 57 juta per bulan kok bisanya tidur, bolos, jalan-jalan ke luar negeri? Saran saya, kalau mau bolos, silakan masuk SMA lagi saja. Kalau mau tidur, silakan di rumah masing-masing. Sementara rakyat kecil di luar sana tidak bisa tidur nyenyak karena takut tabung gasnya meledak. Bukankah pemimpin yang baik tidak akan bisa tidur nyenyak selagi rakyatnya masih dalam kondisi ketakutan? Semoga lekas &quot;sembuh&quot; ya, Pak..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hanya ada respon dari para petinggi DPR atas aksi Pong Hardjatmo tersebut. Mana respon anggota lain yang (katanya) berjumlah 560 orang? Apa masih sibuk membolos sampai tidak tau gedungnya dicoret-coret? Atau mungkin masih tertidur? Digaji 57 juta per bulan kok bisanya tidur, bolos, jalan-jalan ke luar negeri? Saran saya, kalau mau bolos, silakan masuk SMA lagi saja. Kalau mau tidur, silakan di rumah masing-masing. Sementara rakyat kecil di luar sana tidak bisa tidur nyenyak karena takut tabung gasnya meledak. Bukankah pemimpin yang baik tidak akan bisa tidur nyenyak selagi rakyatnya masih dalam kondisi ketakutan? Semoga lekas &#8220;sembuh&#8221; ya, Pak..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Pemindahan Ibu Kota? Perlukah? oleh Pundan Rama Danumardhany</title>
		<link>http://www.majalahopini.com/2010/07/30/pemindahan-ibu-kota-perlukah/comment-page-1/#comment-37</link>
		<dc:creator>Pundan Rama Danumardhany</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Aug 2010 10:00:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.majalahopini.com/?p=516#comment-37</guid>
		<description>Yang pasti pemerintah pusat bersama lembaga-lembaganya serta bekerja sama dengan pemerintah daerah dituntut harus bisa menyelesaikan masalah tersebut (dalam hal ini kemacetan di DKI Jakarta). Untuk mengatasinya, bukan melalui kebijakan-kebijakan yang responsif yang cenderung dirancang dan dilaksanakan untuk menjawab kepentingan dan masalah saat ini saja, melainkan melalui pembuatan kebijakan yang bersifat programis, yaitu kebijakan yang dirancang untuk memecahkan masalah secara bertahap dan berkelanjutan. Mengenai pemindahan ibu kota, hal itu memang sudah sewajarnya diwacanakan. Kita bisa melihat negara-negara maju seperti Amerika misalnya. Dimana antara kota pusat pemerintahan, pusat bisnis, pusat industri hiburan, dan lain-lain, tidak berada dalam satu tempat. Dan satu lagi, bahwa kedua hal tersebut (masalah kemacetan di Jakarta dan wacana pemindahan ibu kota negara) jangan mengalami ketimpangan. Jangan sampai pula ada anggapan pemerintah pusat ingin &quot;mencuci sebelah tangan&quot; dari tanggung jawabnya untuk ikut serta mengatasi kemacetan di Jakarta, sehingga merencanakan pemindahan ibu kota negara. Semoga Indonesia menjadi yang terbaik. Amin.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Yang pasti pemerintah pusat bersama lembaga-lembaganya serta bekerja sama dengan pemerintah daerah dituntut harus bisa menyelesaikan masalah tersebut (dalam hal ini kemacetan di DKI Jakarta). Untuk mengatasinya, bukan melalui kebijakan-kebijakan yang responsif yang cenderung dirancang dan dilaksanakan untuk menjawab kepentingan dan masalah saat ini saja, melainkan melalui pembuatan kebijakan yang bersifat programis, yaitu kebijakan yang dirancang untuk memecahkan masalah secara bertahap dan berkelanjutan. Mengenai pemindahan ibu kota, hal itu memang sudah sewajarnya diwacanakan. Kita bisa melihat negara-negara maju seperti Amerika misalnya. Dimana antara kota pusat pemerintahan, pusat bisnis, pusat industri hiburan, dan lain-lain, tidak berada dalam satu tempat. Dan satu lagi, bahwa kedua hal tersebut (masalah kemacetan di Jakarta dan wacana pemindahan ibu kota negara) jangan mengalami ketimpangan. Jangan sampai pula ada anggapan pemerintah pusat ingin &#8220;mencuci sebelah tangan&#8221; dari tanggung jawabnya untuk ikut serta mengatasi kemacetan di Jakarta, sehingga merencanakan pemindahan ibu kota negara. Semoga Indonesia menjadi yang terbaik. Amin.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Dana Aspirasi Untuk Siapa? oleh pundan rama</title>
		<link>http://www.majalahopini.com/2010/06/30/dana-aspirasi-untuk-siapa/comment-page-1/#comment-18</link>
		<dc:creator>pundan rama</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Jul 2010 09:40:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.majalahopini.com/?p=494#comment-18</guid>
		<description>tulisannya bagus sekali..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>tulisannya bagus sekali..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Hukum Adalah Hukum oleh heri</title>
		<link>http://www.majalahopini.com/2010/06/09/hukum-adalah-hukum/comment-page-1/#comment-12</link>
		<dc:creator>heri</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 11 Jun 2010 03:30:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.majalahopini.com/?p=456#comment-12</guid>
		<description>haruskah rakyat kecil hukumanya lebih berat drpd yg korupsi????</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>haruskah rakyat kecil hukumanya lebih berat drpd yg korupsi????</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
